Usulan sanksi baru PBB atas Suriah dicabut

Militer Suriah

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Resolusi mengancam akan memberi sanksi jika kekerasan atas pengunjuk rasa tidak dihentikan.

Negara-negara Eropa yang mengusulkan sanksi PBB yang baru atas Suriah sudah mencabut tuntutan untuk sanksi mendesak atas pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Rancangan itu diusulkan oleh Inggris, Prancis, Jerman, dan Portugal serta didukung oleh Amerika Serikat dengan ancaman sanksi jika penindasan atas pengunjuk rasa tidak berhenti.

Versi yang lebih ringan ini ditujukan untuk mendapatkan dukungan dari Cina dan Rusia, yang menentang sanksi atas Suriah.

Para diplomat mengatakan mereka merencanakan pemungutan suara pada akhir pekan ini.

Rancangan resolusi antara lain berisi 'tuntutan mendesak untuk mengakhiri kekerasan', seperti yang tertulis dalam salinan kopi yang diperoleh sejumlah kantor berita.

Disebutkan pula bahwa 15 anggota Dewan Keamanan 'mengungkapkan tekad -jika Suriah tidak mematuhi resolusi tersebut- untuk menerapkan langkah-langkah yang disiapkan, termasuk sanksi'.

Bulan lalu Amerika Serikta, Inggris, Prancis, Jerman, dan Portugal mengajukan rancangan resolusi pemberian sanksi atas Presiden Assad, anggota keluargannya dan rekan-rekan dekatnya.

Namun Rusia dan Cina mengancam akan menempuh veto jika ada sanksi atas Suriah.

Krisis meluas

Unjukr rasa di Suriah
Keterangan gambar, PBB memperkirakan 2.700 tewas sejak pemerintah memberangus pengunjuk rasa.

Beberapa negara lain juga menolak sanksi, seperti India, Afrika Selatan, dan Brazil.

Wartawan BBC di Markas Besar PBB di New York, Barbara Plett, mengatakan sejumlah negara khawatir bahwa keterlibatan pihak luar justru akan memicu krisis yang lebih meluas.

Posisi mereka itu antara lain didorong oleh aksi militer NATO di Libya, yang mereka anggap sudah melompati mandat PBB berupa perlindungan atas warga sipil.

Seorang diplomat Eropa mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka ingin mengirimkan pesan yang kuat dan bersatu untuk menjamin agar rezim Assad tetap tidak mendengarkan tuntutan komunitas internasional.

Sementara di lapangan, pasukan Suriah melanjutkan upaya menekan unjuk rasa yang berlangsung sejak enam bulan lalu.

Hari Selasa (27/09), para pegiat hak asasi manusia mengatakan pasukan Suriah menyerbu pusat kota Rastan -yang dilanda unjuk rasa antipemerintah- setelah mengepungnya selama dua hari.

PBB memperkirakan 2.700 orang tewas di seluruh Suriah sejak pemberangusan unjuk rasa berlangsung awal tahun ini. Pemerintah Suriah selalu menyatakan bahwa mereka mengatasi kelompok bersenjata yang mendapat dukungan asing.