Liga Arab serukan dialog di Suriah

Liga Arab mendesak dua pihak yang berkonflik di Suriah berembug untuk mencari solusi damai dari pertikaian berdarah yang disebut telah menewaskan 3000 orang itu.
Organisasi negara-negara Arab itu meminta agar pertemuan sudah bisa dilangsungkan selambatnya dalam 15 hari setelah seruan ini dilayangkan.
Seruan ini muncul pada sesi temu darurat Liga Arab yang digelar di Mesir, dimana para menteri luar negeri negara Arab sementara memutuskan tak akan membekukan keanggotaan Suriah dalam organisasi itu.
Damaskus tidak antusias menyambut desakan ini, dimana didalamnya dua pihak diminta bertemu untuk berembug di Kairo yang menjadi markas organisasi ini.
Dalam pertemuan selama tiga jam di Kairo, sidang darurat Liga Arab berbicara tanpa utusan Suriah, kemudian dilanjutkan pembicaraan dengan diplomat Suriah hingga jauh malam.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al-Thani, yang menjadi ketua pertemuan, mengumumkan bahwa Liga memilih berhubungan dengan pemerintah Suriah dan pihak oposisi negara itu agar bisa dilangsungkan "dialog nasional di meja Liga Arab dengan menggunakan arahannya dalam 15 hari."
Logistik dari luar
Resolusi ini didukung seluruh negara anggota meski Suriah menyampaikan keberatan.

Sumber gambar, b
Sebagian negara anggota telah lebih dulu mengusulkan pembekuan keanggotaan Suriah, namun menurut wartawan BBC di Kairo, Yolande Knell, nampak jelas bahwa masing-masing kubu di Liga punya pendapat sendiri tentang bagaimana mengatasi situasi ini.
Arab Saudi dan negara Teluk lain telah menarik duta besarnya begitu suasana makin keruh di Suriah. Sementara menurut utusan Suriah, Duta Besarnya untuk Liga Arab Yousef Ahmad, oposisi mendapat pasokan senjata mereka dari Israel.
"Mereka juga mendapat bantuan logistik dari negara Arab lainnya," katanya di depan sidang Liga, seperti dikutip kantor berita Associated Press.
Sementara itu di Suriah sendiri situasi terus bertambah buruk dimana bentrok berdarah berlanjut. Sejumlah pegiat oposisi menyebut sasaran militer Suriah kali ini adalah Zabadani, sebuah kota dekat perbatasan dengan Libanon, sementara bentrok lain juga dilaporkan terjadi di provinsi Homs dan Idlib.





























