Dunia politik Kolonel Gaddafi

Kolonel Gaddafi

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Kolonel Gaddafi merupakan tokoh kontroversial dunia sejak berkuasa tahun 1969.

Kolonel Muammar Gaddafi merebut kekuasaan di Libia pada tahun 1969 dan sejak itu menjadi tokoh yang kontroversial di Timur Tengah, Afrika, mapun di dunia Barat.

Begitu merebut kekuasaan dari Raja Idris lewat kudeta tak berdarah, dia langsung menegaskan menolak kapitalisme dan komunisme.

Aliran politiknya, begitulah dia selalu mengaku, adalah 'jalan ketiga' yang menurutnya merupakan kombinasi antara Islam dan Sosialisme.

Namun dia mengaku bahwa ideologi itu masih memerlukan waktu untuk bisa berkembang.

Sementara itu di dunia barat, selama beberapa waktu dia sempat dituduh oleh banyak pemerintahan sebagai pendukung terorisme.

Bagaimanapun pada tahun 2003, Gaddafi sepertinya mengubah haluan dengan melucuti senjata perusak massal dan langkah itu dipuji oleh pemimpin-pemimpin Barat.

Mendukung kelompok militan

Libia memiliki cadangan minyak yang besar dan Moammar Gaddafi menggunakan pendapatan minyak untuk melakukan perubahan di dalam negeri dan sekaligus mendukung gerakan revolusioner internasional.

Di bawah Gaddafi, Libia menjadi tempat latihan bagi kelompok-kelompok pemberontak di kawasan Afrika Barat, termasuk antara lain panglima perang Liberia yang kemudian menjadi presiden, Charles Taylor.

Sementara itu sayap militer perjuangan Irlandia, IRA, dan Palestina, PLO, mendapat bantuan senjata maupun keuangan dari pemerintah Libia.

Dan dia tidak memperdulikan kritik dari negara-negara Barat maupun Israel atas kebijakannya itu.

"Palestina adalah tanah kami. Itu bukan tanah warga Palestina saja atau Mesir. Itu adalah tanah semua warga Arab. Kami berharap bisa merebut kembali tanah itu dengan cara apapun. Dan jika peperangan diperlukan, itu ok," tegasnya dalam sebuah pernyataan.

Hubungan dengan Barat

Hubungan antara Kolonel Gaddafi dan Barat mencapai titik nadir pada masa 1980-an. Saat itu Inggris dipimpin oleh Perdana Menteri Margaret Thatcher, sementara Amerika Serikat di bawah Presiden Ronald Reagan, yang menyebut Gaddafi sebagai 'anjing gila'.

Pada masa itu pulalah, persisnya tahun 1984, seorang polisi perempuan Inggris, Yvonne Fletcher, ditembak mati di luar Kedutaan Libia di London ketika sedang bertugas mengawasi unjuk rasa anti-Gaddafi.

Dua tahun kemudian Amerika Serikat menuduh Libia terlibat dalam pemboman sebuah klub malam di Berlin Barat yang sering dikunjungi oleh tentara Amerika Serikat.

Serangan itu ditanggapi Amerika Serikat dengan melakukan serangan udara atas ibukota Tripoli, yang antara lain menewaskan seorang putri angkat Gaddafi yang berusia 15 bulan.

Tahun 1988 pesawat Pan Am meledak di atas Lockerbie, Skotlandia, dan menewaskan 270 orang.

Setahun kemudian pesawat Perancis yang meledak di atas Afrika Barat.

Pemerintah-pemerintah Barat langsung menuding Gaddafi di balik kedua serangan itu dan menerapkan sanksi atas Libia.

Menarik perhatian

Bagaimanapun Gaddafi tampaknya tidak tergugah dengan sanksi internasional terhadap Libia maupun kecaman-kecaman atas dirinya.

Dia menulis tiga jilid 'Buku Hijau' yang memaparkan konsep Jamahiriya, yang secara umum bisa diterjemahkan sebagai 'kondisi massa.'

Kehadirannya dalam pertemuan-pertemuan di Timur Tengah, antara lain Liga Arab, selalu menarik pehatian media dunia. Dia juga sempat berkunjung ke kawasan hutan Amazon dengan didampingi sekelompok pengawal perempuan.

Jika berkunjung ke luar negeri, Gaddafi selalu diikuti oleh rombongan yang besar dan memilih untuk tinggal di tenda besar ala Timur Tengah.

Dan banyak yang terkejut ketika pada akhir 1990-an, dia menempuh kebijakan yang bersahabat dengan dunia internasional.

Selain menyerahkan pembom Lockerbie untuk diadili di Inggris, Gaddafi juga melucuti senjata pemusnah massal serta memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok militan dunia.