Presiden Taiwan butuh referendum untuk berdamai dengan Cina

Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Presiden Taiwan, Ma Ying-jeou, menggelar konferensi pers untuk menanggapi kritik dari oposisi.

Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengatakan tidak akan terlibat dalam perundingan damai dengan Cina kecuali mendapat dukungan lewat referendum.

Hal itu dinyatakannya dalam konferensi pers di ibukota Taiwan, Taipeh.

Pernyataan ini sebagai tanggapan atas kritik oposisi bahwa dua negara yang bermusuhan itu sedang berupaya mencapai kesepakatan damai dalam waktu sepuluh tahun mendatang.

Kedua negara menghentikan peperangan pada tahun 1960-an namun tidak pernah menandatangani kesepakatan damai secara resmi.

Hubungan Taiwan dan Cina berada pada titik terbaik dalam waktu beberapa puluh tahun belakangan ini sejak Presiden Ma terpilih pada 2008, seperti dilaporkan wartawan BBC Cindy Sui dari ibukota Taipei.

Namun sejauh ini hubungan itu masih terbatas pada kerja sama ekonomi dan politik.

Senin awal pekan ini, Presiden Ma mengejutkan banyak warga Taiwan dengan mengatakan kesepakatan damai dengan Cina sebaiknya ditandatangani dalam waktu sepuluh tahun.

Dan untuk pertamakalinya ada jadwal waktu yang ditetapkan dalam kaitan hubungan dengan Cina.

Ada kekhwatiran pernyataan Presiden Ma itu akan mengarah para unifikasi dengan Cina, yang masih menganggap Taiwan sebagai provinsinya yang membangkang.

Namun para pengamat yang dekat dengan presiden mengatakan bahwa presiden ingin memanfaatkan kondisi hubungan saat ini guna membangun perdamaian abadi antara keduanya.

Presiden Ma juga disebut mengakui bahwa Cina akan menjadi semakin kuat pada tahun-tahun mendatang.