Konferensi di Turki bahas masa depan Afghanistan

Sumber gambar, Getty
Konferensi tingkat tinggi mengenai masa depan Afghanistan telah dibuka di Istanbul, Turki, hari Rabu (2/11) dihadiri oleh Presiden Afghanistan Hamid Karzai.
Presiden Turki Abdullah Gul berperan sebagai tuan rumah konferensi. Sebanyak 27 negara mengirimkan Menteri Luar Negeri atau utusannya antara lain Cina, India, dan Iran.
"Untuk memulihkan keamanan di Afghanistan solidaritas murni merupakan keharusan," kata Presiden Abdullah Gul dalam pidato pembukaan.
Para delegasi membicarakan keamanan dan pembangunan di Afghanistan setelah pasukan NATO pimpinan Amerika Serikat meninggalkan negara tersebut beberapa tahun mendatang.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari juga menghadiri konferensi ini. Para wartawan mengatakan kehadiran Pakistan dinilai penting terkait dengan kegiatan militan yang masuk dari wilayah Pakistan ke Afghanistan.
Afghanistan dan Amerika meminta Pakistan untuk meredam kegiatan militan.
Kedua negara meminta Islamabad menggempur tempat-tempat persembunyian Taliban dan al-Qaida yang dikatakan terletak di wilayah terpencil Pakistan.
Pertemuan pertama
Namun sejauh ini Pakistan menyanggah telah melindungi atau mendukung kelompok militan.

Sumber gambar, Getty
Selasa kemarin Presiden Asif Ali Zardari dan Presiden Hamid Karzai sepakat untuk secara bersama-sama menyelidiki pembunuhan utusan Afghanistan untuk masalah perdamaian Burhanuddin Rabbani yang dibunuh September lalu.
Pertemuan ini merupakan yang pertama antara kedua pemimpin sejak pembunuhan Rabbani.
Hubungan kedua negara mengalami ketegangan menyusul pembunuhan Rabbani. Pemerintah Afghanistan mengatakan pembunuhan itu direncanakan di Pakistan dan dilakukan oleh seorang warga Pakistan.
Afghanistan juga menuduh Pakistan menolak bekerja sama dengan kepolisian dalam penyelidikan pembunuhan Rabbani.
Bulan lalu Presiden Karzai kepada BBC mengatakan pihaknya yakin unsur-unsur resmi Pakistan mendukung gerakan perlawanan di Afghanistan.
Beberapa pejabat Amerika sebelumnya juga mengatakan Pakistan mendukung jaringan militan Haqqani yang dituduh terlibat dalam serangkaian serangan terhadap kepentingan Amerika dan NATO di Afghanistan.





























