Militer Suriah tewaskan 20 warganya

tank suriah

Sumber gambar, bbc

Keterangan gambar, Militer Suriah kerap menggunakan tank-nya untuk menghadapi pemrotes.

Sejumlah aktivis di Suriah melaporkan adanya serangan dari sejumlah tank militer negara itu di kota Horns pada Kamis (3/11) waktu setempat.

Serangan yang berasal dari tembakan mesin tank militer ini menurut para aktivis telah mengakibatkan sedikitnya 20 orang tewas.

Lembaga pemantau HAM yang berbasis di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, mengatakan militer Suriah menyasar Distrik Baba Amr dalam serangan tersebut.

Lembaga itu juga melaporkan aksi serupa terjadi di bagian lain kota Horn.

Serangan militer Suriah kepada warga sipil terjadi sehari setelah Damaskus mencapai kesepakatan dengan Liga Arab untuk menyusun rencana penarikan pasukan militer dari sejumlah kota.

Dalam rencana yang disepakati itu, Suriah bersedia untuk menarik pasukannya dari kawasan perkotaan dan mengakhiri aksi penembakan yang menewaskan warganya.

Liga Arab dalam keterangannya setelah kesepakatan itu terjadi juga mengatakan bahwa pemerintah Suriah bersedia untuk melepaskan seluruh tahanan politik dan memulai pembicaraan dengan kelompok oposisi.

Pemerintah Suriah juga berjanji memberikan akses kepada wartawan, organisasi kemanusiaan dan perwakilan Liga Arab untuk ikut memantau kondisi yang terjadi di negara tersebut.

Saat ini wartawan asing memang tidak diperbolehkan secara bebas bergerak di Suriah, semua informasi dikontrol secara ketat oleh pemerintah dan sangat sulit memverifikasi kabar yang terjadi di sana.

Sambut dingin

Namun kesepakatan antara Damaskus dengan Liga Arab sejak awal telah disambut dingin oleh kelompok oposisi.

Mereka mengatakan kesepakatan ini dilakukan hanya untuk mengulur waktu saja dan akan percuma.

"Rezim yang ada sekarang telah menerima inisiatif dari negara Arab karena mereka ketakutan akan diisolasi oleh negara-negara di kawasan ini, rezim sekarang sudah lemah dan tidak punya banyak pilihan," kata Pemimpin Oposisi, Burhan Ghalioun dalam halaman Facebooknya.

"Kami tidak sedang membicarakan soal dialog," katanya lagi kepada AFP.

"Kami menawarkan untuk terlibat dalam negosiasi yang akan mengubah rezim otoritarian menuju rezim pemerintahan yang demokratis. Dan kami meminta Bashar al-Assad turun dari jabatannya."

Kekerasan yang dilakukan oleh militer Suriah sendiri berawal dari aksi protes massa menentang kekuasaan Pemerintahan Bashar al- Assad pada bulan Maret lalu.

Sejumlah laporan menyebutkan akibat aksi kekerasan ini setidaknya 3000 orang dinyatakan tewas sementara ratusan lainnya hilang.

Kelompok perlawanan belakangan memilih mengangkat senjata dan bergabung dengan sejumlah tentara yang membelot karena tidak menyetujui kebijakan militer Suriah.

Pemerintah Suriah sendiri menyatakan aksi kekerasan ini didalangi oleh "geng bersenjata" dan "teroris."

Pemerintahan Presiden Assad mengatakan mereka telah kehilangan 1000 pasukannya saat mengahadapi kelompok ini.