AS ingatkan adanya serangan di Nigeria

Kedutaan Besar Amerika Serikat mengingatkan akan munculnya serangkaian serangan di Abuja yang dilakukan kelompok militan Islam, Boko Haram.
AS mengatakan informasi yang mereka peroleh menyebutkan serangan itu akan diarahkan kepada sejumlah hotel yang biasa dijadikan tempat berkumpul para diplomat, politikus dan kelompok pebisnis elit Nigeria.
Ada tiga hotel yang menurut AS kemungkinan akan menjadi sasaran serangan itu, yaitu Hotel Hilton, Nicon Luxury dan Sheraton.
Ini merupakan salah satu peringatan yang cukup spesifik yang dikeluarkan oleh AS.
AS juga meminta warganya untuk menjauhi tempat-tempat tersebut dan meminta agar militer Nigeria menambah lebih banyak lagi titik pemeriksaan militer di sejumlah tempat.
Kedubes AS juga mengatakan bahwa serangan ini akan dilakukan ketika warga di negara itu tengah merayakan Idul Adha.
Peringatan ini muncul tak lama setelah aksi serangan Boko Haram terjadi di kota Damaturu pada hari Jumat (4/11).
Sasar sipil
Serangan yang menggunakan sejumlah senapan dan bom itu menurut Palang Merah Nigeria telah menewaskan sedikitnya 64 orang.
Para saksi mata mengatakan beberapa bom meledak dan menghancurkan sejumlah gereja serta markas kepolisian Negara Bagian Yobe.
Seorang pastor Katolik mengatakan gerejanya bersama delapan gereja lainnya dibakar kelompok penyerang.
Paus Benediktus XVI telah meminta agar kekerasan bisa dihentikan di Nigeria. Hal serupa juga disampaikan oleh Sekjen PBB, Ban Ki-moon terhadap aksi kekerasan terakhir di Nigeria itu.
Sementara Presiden Nigeria Goodluck Jonathan dilaporkan merasa sangat terganggu dengan serangan berdarah tersebut.
"Presiden mengatakan pemerintahannya berusaha keras menyeret pelaku kekerasan ini ke muka hukum," demikian pernyataan seorang juru bicara pemerintah Nigeria.
Serangan di Damaturu ini menyusul tiga serangan bom ke sebuah pangkalan militer di Maiduguri, Negara Bagian Borno.
Boko Haram yang secara harafiah berarti 'pendidikan barat terlarang' itu telah mendalangi sejumlah serangan dengan sasaran polisi dan pejabat pemerintah.
"Kami akan terus menyerang pejabat pemerintah federal sebelum pasukan pemerintah menghentikan kekerasan mereka terhadap anggota kami dan warga sipil," kata seorang juru bicara Boko Haram kepada harian setempat Daily Trust.





























