Ekspor Cina tetap tumbuh namun lebih rendah

Yuan

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Melambannya pertumbuhan ekspor Cina karena krisis ekonomi di kawasan euro.

Pertumbuhan ekspor Cina makin turun pada Oktober di tengah krisis yang melanda negara pengguna mata uang euro dan kekhawatiran mengenai melambannya perekonomian Amerika Serikat.

Bulan Oktober, ekspor Cina tetap tumbuh sebesar 15,9% namun pertumbuhan itu lebih kecil dari pertumbuhan ekspor pada September (17,9%) dan Agustus (24,5%). Di sisi lain, impor naik 28,7% dengan surplus perdagangan global mencapai US$17 miliar, atau turun dari US$27.1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan surplus perdagangan dengan Uni Eropa -yang merupakan pasar ekspor terbesarnya- turun 10,3% dibanding tahun lalu.

Statistik terbaru ini memperlihatkan dampak kelesuan ekonomi global mulai mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Cina yang amat mengandalkan ekspor.

"Pertumbuhan ekspor terus menurun hingga bulan lalu dengan latar belakang tersentaknya perekonomian di negara-negara Eropa, yang merupakan tujuan ekspor terbesar negara kami," kata Wang Hui dari Guotai Securities di Shanghai.

"Dengan makin meluasnya krisis utang euro, kami memperkirakan pertumbuhan ekspor akan menurun lebih lanjut pada bulan-bulan ke depan."

Pasar domestik

Pertumbuhan ekonomi Cina dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh industri manufaktur pada ekspor, yang menjadikan negara ini sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke dua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Dan masalah perekonomian yang dihadapi negara pengguna mata uang euro dan Amerika Serikat -yang merupakan dua pasar terbesar bagi produk Cina- menyebabkan melemahnya permintaan konsumen yang mempengaruhi prospek ekonomi Cina.

Sebelumnya, Rabu (09/11), Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde, meminta Cina untuk mengubah kebijakan pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekspor dengan memusatkan perhatian pada peningkatan permintaan di dalam negeri guna kesinambungan pertumbuhan.

Para analis keuangan mengatakan pasar dalam negeri Cina berkembang dengan mantap.

"Pertumbuhan impor lebih tinggi dari yang kami perkirakan, yang memperlihatkan permintaan dalam negeri kuat," tambah Wang Hui.

Menimbun stok

Bagaimanapun peningkatan impor tidak semata-mata menjadi indikator dari peningkatan permintaan di dalam negeri.

Beberapa analis mengatakan pabrik-pabrik mengambil keuntungan dari turunnya harga komoditi dengan menimbun cadangan bahan baku yang menyebabkan impor naik.

"Tampaknya penimbunan barang berlanjut, antara lain karena menurunnya harga global. Para produsen mengambil kesempatan ini untuk menimbun bahan baku," kata Li Cui dari Royal Bank of Scotland.

Dan peningkatan impor Cina dianggap mengangkat perekonomian negara-negara pengekspor biji besi dan komoditi lain, sepeti Australia dan Brasil.

Hari Kamis (10/11), saham-saham di bursa Cina ditutup dengan penurunan 1,80% karena kekhawatiran krisis di Eropa akan mempengaruhui lebih lanjut ekspor Cina.