Prajurit AS divonis bersalah bunuh tiga warga Afghanistan

Sumber gambar, Getty
Mahkamah militer Amerika Serikat akhirnya memutuskan Sersan Calvin Gibbs bersalah dalam kematian tiga warga sipil Afghanistan, di Provinsi Kandahar, awal tahun 2010.
Juri membutuhkan waktu hingga empat jam sebelum akhirnya memutuskan Gibbs bersalah dan dijerat 15 jenis dakwaan.
Gibbs, 26, mengakui telah memotong dan menyimpan jari-jari tiga warga yang tewas itu sebagai kenang-kenangan.
Namun dia bersikukuh hanya membalas tembakan dan tidak pernah melakukan pembunuhan warga sipil.
Sejauh ini Gibbs yang berasal dari Billings, Montana adalah anggota militer dengan pangkat tertinggi yang divonis bersalah melakukan pembunuhan.
Dengan keputusan pengadilan ini, maka Gibbs terancam hukuman penjara seumur tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Sebelumnya tiga rekan Gibbs sudah diadili dan mengaku bersalah. Dan dua orang diantaranya memberikan kesaksian yang memberatkan Gibbs.
Tetapi, pengacara Gibbs mengatakan tiga rekan Gibbs itu bersekongkol melimpahkan kesalahan mereka kepada Gibbs.
Rencana pembunuhan
Penyelidikan atas kasus ini dimulai dengan menyelidiki Brigade Stryker ke-5, unit tempur Gibbs yang diterjunkan di Afghanistan.
Jaksa menyatakan unit ini kemudian bertindak di luar kendali termasuk mengisap hasis, mengambil foto jenazah warga Afghanistan dan memukuli sesama prajurit yang melaporkan penggunaan obat-obatan terlarang.

Sumber gambar, Reuters
Salah satu anggota tim, Adam Winfield memberi tahu orang tuanya saat pembunuhan warga Afghanistan pertama terjadi dan mengatakan masih banyak pembunuhan akan dilakukan.
Di muka pengadilan Winfield mengaku bersalah atas pembunuhan tak berencana dan menerima pengurangan hukuman.
Dia juga bersaksi bahwa Gibbs akan membunuhnya jika tak terlibat dalam aksi kekerasan itu.
Kesaksian lain diperoleh dari Jeremy Morlock yang menerima hukuman 24 tahun penjara atas aksi kekerasan itu.
Menurut Morlock, saat Gibbs bergabung pada 2010, dia sudah berencana membunuh warga sipil.
Morlock juga bersaksi Gibbs bahkan menggunakan granat terhadap kedua korban serta meletakkan senapan AK-47 di tubuh korban agar terkesan bahwa mereka adalah anggota kelompok bersenjata.
Kejadian ini terjadi pada patroli rutin di Kandahar pada awal tahun 2010. Pada Maret 2011, sejumlah foto dipublikasikan menunjukkan para prajurit berpose dengan mayat warga Afghanistan yang baru saja mereka bunuh.
Angkatan Darat AS menganggap foto-foto itu sangat tidak pantas dan mengingkari nilai-nilai yang dijunjung angkatan bersenjata AS.





























