Demonstran Kuwait serbu gedung parlemen

Kuwait
Keterangan gambar, Pembangunan pesat Kuwait dan sistem kesejahteraan yang melimpah membuat rakyat tak banyak menuntut.

Puluhan warga Kuwait yang tengah menggelar aksi protes menyerbu gedung parlemen setempat Rabu malam sementara ratusan orang lainnya berada di luar gedung.

Saksi mata mengatakan mereka menuntut agar Perdana Menteri Sheikh Nasser al-Mohammad al-Sabah mundur.

Ratusan orang, termasuk anggota parlemen dari kubu oposisi, sudah menggelar aksi protes mingguan di luar parlemen dengan tudingan pemerintah melakukan korupsi.

Sejumlah laporan menyebut polisi anti huru-hara memukuli demonstran menggunakan tongkat di luar gedung parlemen.

Menurut kantor berita AFP sedikitnya lima peserta aksi demo cedera.

"Sekarang kita masuki rumah rakyat," seru Mussallam al-Barrak, yang turut melakukan aksi protes terhadap posisi Sheikh Nasser, keponakan emir atau penguasa tertinggi Kuwait.

Tuduhan korupsi

Peserta aksi demo mendobrak pagar gedung parlemen dan masuk ke ruang sidang utama, dimana mereka menyanyikan lagu kebangsaan dan meninggalkan lokasi itu beberapa saat kemudian.

Seorang saksi mata yang juga peserta aksi mengatakan kepada BBC bahwa para penjaga gedung tidak melakukan apa-apa saat mereka masuk ke gedung tersebut, setelah upaya demonstran untuk mendatangi kediaman perdana menteri dihadang.

"Ada yang bisa masuk (gedung). Tidak ada konfrontasi dengan tentara nasional yang menjaga gedung," kata dokter junior Mohammed kepada BBC World Service.

"Rakyat menginginkan reformasi, dan terutama karena beberapa saat terakhir pemerintah sudah melenceng dari semangat konstitusi, serta memandang sebelah mata pada pelaksanaan demokrasi."

Saat massa kembali ke lapangan di luar gedung, para peserta aksi di luar menyambut: "Rakyat menghendaki kepala (pemerintahan) turun," tulis kantor berita Reuters.

Kuwait adalah satu dari sangat sedikit negara di kawasan Teluk yang anggota parlemennya dipilih.

Menurut para pengamat, pemerintah negara kecil ini selamat dari gelombang amukan aksi protes massa seperti yang terjadi di Mesir maupun Tunisia karena sistem kesejahteraannya yang melimpah.

Namun kelompok oposisi meningkatkan tekanan politiknya terhadap rezim berkuasa di Kuwait dengan tuduhan praktek korupsi serta upaya untuk menghalangi reformasi politik di negara itu.