Ben Ali bantah seluruh dakwaan

Sumber gambar, Reuters
Mantan Presiden Tunisia yang dipecat Zine al-Abidine Ben Ali membantah seluruh dakwaan yang disampaikan dalam persidangan in absentia.
Ben Ali melarikan diri ke Saudi Arabia pada 14 Januari menyusul tuntutan yang berkembang di masyarakat yang meminta dirinya mundur.
Kuasa hukumnya mengatakan pengadilan itu merupakan upaya Pemerintah Sementara Tunisia untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari kegagalan mereka menciptakan stabilitas di negara itu.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kantor kuasa hukumnya yang berada di Beirut, Ben Ali menyampaikan bantahan atas tuduhan melakukan korupsi, pelanggaran HAM yang dilakukan selama 23 tahun masa pemerintahannya.
"Dia ingin setiap orang mengetahui bahwa tuduhan kriminal ini merupakan kesalahan dan memberikan gambaran yang memalukan terhadap hukum," kata pernyataan itu.
"Yang menarik adalah dia sebenarnya tidak ingin melarikan diri sama sekali. Dia ingin menghindari pertumpahan darah diantara masyarakat Tunisia yang selalu dalam pikiran dan hatinya," kata pernyataan itu.
Ben Ali terancam hukuman 20 tahun penjara jika terbukti bersalah dalam sejumlah kasus termasuk korupsi dan perdagangan narkoba.
Tetapi, otoritas Saudi belum memberikan respon terhadap permintaan ekstradisi Ben Ali, dan istrinya Leila Trabelsi yang diajukan oleh pemerintah Tunisia.
Otoritas Tunisia telah menyiapkan sejumlah kasus hukum untuk melawan Ben Ali, tetapi dalam persidangan yang digelar Senin, akan membacakan dakwaan yang berkaitan dengan uang, senjata dan narkoba.
Sekitar 2 kg narkoba, diperkirakan berupa obat bius, dan $ 27 juta uang tunai ditemukan di Istana Presiden.
Selain itu, Ben Ali juga tengah diselidiki berkaitan dengan kasus lain, yaitu keterlibatannya dalam pembunuhan, penyalahgunaan kekuasaan, perdagangan benda purbakala dan pencucian uang.





























