Pemantau Liga Arab boleh masuk ke Suriah

Sumber gambar, Reuters
Suriah sepakat mengizinkan para pemantau dari Liga Arab masuk ke negara itu sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri kekerasan terhadap pengunjuk rasa antipemerintah.
"Saya mengatakan hari ini bahwa penandatanganan protokol menjadi awal dari kerja sama antara kami dan Liga Arab dan akan menyambut misi pemantau dari Liga Arab; para pemantau yang mewakili negara-negara Arab," kata Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Muallem kepada para wartawan.
Al-Muallem mengatakan kesepakatan ditandatangani setelah Liga Arab melakukan perubahan atas protokol tersebut, seperti yang dituntut pemerintah Damaskuss.
Pengerahan tim pemantau merupakan bagian dari usul Liga Arab kepada pemerintahan Presiden Bashar al-Assad untuk menarik militer dari kota-kota yang dilanda unjuk rasa.
Bersamaan dengan kesepakatan itu, para wartawan juga akan mulai dibolehkan masuk ke Suriah.
Kesepakatan dicapai hanya beberapa hari sebelum pertemuan Liga Arab digelar untuk memutuskan agar masalah Suriah diserahkan kepada Dewan Keamanan.
Sanksi belum dicabut
Bagaimanapun Liga Arab mengatakan bahwa sanksi atas negara itu tidak akan segera dicabut. Sanksi Liga Arab diterapkan bulan lalu ketika Suriah menolak untuk menerima tim pemantau.
"Protokol merupakan mekanisme untuk pergi ke Suriah dan bergerak dengan bebas dalam menjamin implementasi prakarsa Liga Arab atas Suriah. Yang menjadi pertimbangan adalah implementasinya yang baik," kata Sekjen Liga Arab, Nabil Elaraby, seperti dikutip kantor berita Reuters.
Elaraby juga menegaskan bahwa pertemuan para menteri Liga Arab yang direncanakan berlangsung pekan ini untuk membahas tindakan yang akan diambil terhadap Suriah, ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.
Rencananya tim pertama Liga Arab akan menuju Suriah dalam waktu dua atau tiga hari mendatang guna mempersiapkan kedatangan tim pemantau.

Sumber gambar, Reuters
"Kami kini memiliki sekitar 100 nama, termasuk perwakilan dari organisasi nonpemerintah dan pemerintah," tambah Elaraby.
Perlawanan bersenjata
Para pengamat menduga kesepakatan dicapai setelah sekutu utama Suriah, Rusia, meningkatkan tekanannya dan memaparkan rancangan resolusi tentang Suriah yang akan diajukan ke Dewan Keamanan.
Usulan resolusi itu mengecam kekerasan oleh pemerintah Suriah dan pihak oposisi namun tidak menyinggung adanya sanksi. Negara-negara Barat mengatakan resolusi tidak cukup keras walau tetap bersedia untuk merundingkannya.
Aparat keamanan Suriah dilaporkan menggunakan kekuatan yang berlebihan dalam membubarkan unjuk rasa yang berlangsung sejak Maret untuk menentang kepemimpinan Presiden Al-Assad.
PBB memperkirakan hingga saat ini sudah jatuh sekitar 5.000 korban jiwa, termasuk di dalamnya anak-anak maupun perempuan.
Pemerintah Damaskus berulang kali menyatakan bahwa mereka menghadapi kelompok pemberontak bersenjata.
Selain unjuk rasa dari warga sipil, belakangan juga marak perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh para tentara yang membelot. Mereka mengaku membelot setelah dipaksa untuk menembak para pengunjuk rasa.
Kedatangan tim pemantau Liga Arab ini amat diharapkan oleh kelompok oposisi yang mengatakan akan menggelar unjuk rasa terbuka jika para pemantau sudah tiba di kota-kota Suriah.





























