Jepang akan mengurangi impor minyak dari Iran

Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner, dan Menkeu Jepang, Jun Azumi.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner, melakukan pertemuan dengan mitranya Jun Azumi di Tokyo.

Menteri Keuangan Jepang Jun Azumi mengatakan negaranya akan mengurangi impor minyak dari Iran.

Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Timothy Geithner di Tokyo hari Kamis (12/1).

"Dalam waktu lima tahun kami telah mengurangi jumlah impor minyak (dari Iran)," tutur Azumi dalam pernyataan pers bersama dengan Geithner.

"Kami akan mengambil langkah yang terencana dan nyata untuk mengurangi lebih lanjut porsinya, yang saat ini pada posisi 10%."

Jepang merupakan pengimpor terbesar kedua minyak Iran dan sudah mendesak negara-negara Arab untuk meningkatkan ekspor mereka guna menutup kekurangan minyak.

Wartawan BBC di Tokyo Roland Buerk melaporkan Jepang amat membutuhkan pasokan minyak karena penggunaan panas bumi semakin besar setelah terjadi krisis nuklir di PLTN Fukushima.

Cina tidak bergeming

Upaya Jepang untuk mengurangi impor minyak Iran ini disambut baik oleh Timothy Geithner.

''Kami bekerja erat dengan Eropa dan Jepang serta sekutu-sekutu di seluruh dunia untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran."

"Kami amat menghargai dukungan yang diberikan Jepang untuk berdiri bersama kami dan komunitas internasional untuk tujuan strategis yang amat penting," tambahnya.

Geithner sebelumnya berkunjung ke Cina untuk menggalang dukungan bagi sanksi yang lebih ketat atas industri minyak Iran dalam upaya mencegah ambisi nuklirnya.

Namun pemerintah Beijing tidak memberikan tanda-tanda akan melonggarkan penentangan mereka atas sanksi yang lebih keras terhadap Iran.

Amerika Serikat berpendapat Iran telah gagal menanggapi keprihatinan dunia internasional atas program nuklirnya.

Pada malam tahun baru lalu, Presiden Barack Obama mensahkan undang-undang yang melarang lembaga-lembaga keuangan melakukan bisnis dengan bank sentral Iran, yang bertanggung jawab atas semua penjualan minyak.

Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan tenaga listrik.