Presiden Honduras janji ungkap kasus kebakaran penjara

Sumber gambar, AFP
Presiden Honduras Pofirio Lobo menjanjikan penyelidikan menyeluruh dan transparan terhadap peristiwa kebakaran yang melanda sebuah penjara di kota Comayagua yang setidaknya menewaskan 350 narapidana.
Lobo juga memberhentikan sementara pejabat lokal dan nasional yang mengurusi soal kelayakan kondisi penjara di negara tersebut saat penyelidikan tentang insiden ini berlangsung.
Dalam peristiwa itu sebagian besar korban tewas akibat terbakar atau sesak karena asap saat mereka berada di dalam sel yang terkunci.
Peristiwa ini mengundang kecaman dari lembaga pemerhati Hak Asasi Manusia, Human Right Watch, HRW yang mengatakan peristiwa itu akibat kondisi penjara yang melebihi kapasitas.
Dalam kecamannya lembaga itu juga menyalahkan buruknya kondisi penjara di Comayagua dan meminta agar sistem penataan penjara di seluruh negara itu dirombak oleh pemerintah.
"Melihat bahwa Honduras merupakan negara dengan kasus pembunuhan terbesar di dunia, peemerintah kemudian memenjarakan para tersangka dan terpidana kasus ini, namun gagal untuk menyediakan kondisi penjara yang layak kepada mereka yang ditahan," kata Direktur HRW, Jose Miguel Vivanco.
Pemerintah saat ini tengah menyelidiki penyebab kebakaran apakah karena akibat narapidana yang lalai dalam menggunakan api atau karena hubungan pendek arus listrik.
"Akan ada penyelidikan independen yang akan diawasi oleh pemantau interansional," kata Presiden Lobo.
Kunci hilang
Dalam peristiwa itu petugas penyelamat kesulitan menyelamatkan para narapidana yang terjebak dalam peristiwa Selasa (14/02) malam lalu karena mereka tidak memegang kunci penjara.
"Kami tidak bisa mengeluarkan mereka karena kami tidak punya kunci penjara dan kami tidak bisa menemukan petugas penjaga yang memegang kunci-kunci tersebut," kata Juru Bicara Pemadam Kebakaran Comayagua, Josua Gracia.
Seorang narapidana yang selamat dalam peristiwa itu mengatakan yang pertama dia dengar saat peristiwa itu mulai terjadi adalah teriakan para napi yang berteriak ketakutan.
Kepala Layanan Penjara, Daniel Orellana membenarkan saat ini penyelidikan diarahkan untuk mengetahui dua versi cerita tentang awal terjadinya peristiwa itu.
"Kami punya dua hipotesis, yang pertama adalah apakah benar napi sengaja membakar tempat tidur mereka dan menyebabkan kebakaran kemudian hipotesis kedua adalah kemungkinan kebekaran karena arus pendek listrik," kata Orellana seperti dikutip dari Reuters.
Laporan sementara hingga hari Rabu (15/02) waktu setempat menyebutkan ada 365 orang narapidana didalam daftar petugas yang masih belum ditemukan keberadaannya.
Mereka kemungkinan meninggal karena terbakar atau melarikan diri dan selamat.





























