PBB: Kekerasan di Suriah tewaskan lebih dari 8,000 orang

Lebih dari 8,000 orang tewas terbunuh di Suriah selama aksi anti pemerintah meletus setahun silam, demikian keterangan resmi PBB.
Presiden Majelis Umum PBB Nassir Abdulazziz al-Nasser mengatakan sebagian korban tewas adalah anak-anak dan kaum perempuan.
Pernyataan PBB ini muncul ketika Utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk penyelesaian konflik di Suriah, Kofi Annan, akan bertemu perwakilan kelompok oposisi Suriah di Turki.
Saat bertemu Presiden Suriah Bashar al-Assad pekan lalu di Damaskus, Kofi Annan menyatakan "optimis" tentang kemungkinan adanya gencatan senjata di Suriah.
Annan mengatakan yang harus diprioritaskan saat ini adalah memberikan akses kepada bantuan kemanusiaan di wilayah terparah akibat konflik dan membangun dialog politik.
Tetapi usai melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan di Ankara, Annan mengakui proses diplomatik akan memakan waktu, dan dia menggambarkan situasi di Suriah sebagai "sangat kompleks".
Annan sendiri akan segera bertemu perwakilan kelompok oposisi Suriah di Turki.
Kekerasan berlanjut
Sementara itu, kekerasan terus berlanjut di di Kota Homs, Suriah, yang menurut kelompok penentang rezim Bashir al-Assad, telah menewaskan 47 orang akibat dibunuh kelompok milisi pendukung pemerintahk.
Kaum perempuan dan anak-anak dilaporkan menjadi korban penyiksaan dan pembunuhan pada Minggu (11/03) malam di wilayah Karm el-Zeytoun.

Sumber gambar, AP
Pemerintah Suriah mengakui adanya kasus ini, tetapi mereka menyalahkan "kelompok teroris" sebagai pelakunya.
Seperti dilaporkan wartawan BBC Jon Donnison dari Libanon, rekaman video yang dibuat buram dan diunggah di YouTube, memperlihatkan tubuh pria, perempuan dan anak-anak tergeletak tewas akibat sebuah serangan bersenjata.
Menurut Jon, video tersebut memperlihatkan sedikitnya ada sebelas tubuh, termasuk sedikitnya empat anak muda yang berlumuran darah.
Laporan-laporan ini sejauh ini sulit diverivikasi karena pemerintah Suriah membatasi akses kepada media indeopenden.
Kota Homs, yang digambarkan hancur-lebur, menjadi medan pertempuran sengit selama berminggu-minggu saat pasukan pemerintah mencoba membasmi kelompok pemberontak.
Para pejabat PBB sebelumnya mengatakan lebih dari 7.500 orang tewas sejak kerusuhan pecah pada Maret tahun lalu.
'Sudah saatnya'
Sekjen PBB Ban Ki-moon dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Senin (12/03), menyerukan agar dunia internasional bersikap satu suara menyikapi kekerasan di Suriah.
Hillary menyatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa rezim Suriah melakukan "kampanye kekerasan brutal" yang disebutnya "mengejutkan nurani dunia".
"Kami meyakini sudah saatnya sekarang semua negara -- termasuk yang menolak upaya kami -- untuk berdiri di belakang upaya kemanusiaan dan pendekatan politik yang dilakukan Liga Arab."
Seperti diketahui, Rusia dan Cina melakukan veto atas resolusi DK PBB yang menyetujui penyelesaian politik di Suriah
Lebih lanjut Hillary mengatakan pemerintah Suriah saat ini "gagal memenuhi tanggung jawab untuk melindungi rakyatnya sendiri".
Dia mengatakan DK PBB harus "bersatu kuat" di belakang upaya Kofi Annan "untuk membantu Suriah keluar dari bencana yang lebih dalam".
Sementara itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan situasi di Suriah tetap menjadi "keprihatinan besar", tetapi dia memperingatkan bahwa perubahan di dunia Arab "tidak harus dicapai dengan cara-cara yang menyesatkan atau memanipulasi Dewan Keamanan".





























