Gencatan senjata di Suriah terancam batal

Syria

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Kekerasan di Suriah berlanjut ditengah-tengah kabar pembatalan gencatan senjata.

Pemberontak di Suriah menolak permintaan pemerintah yang dibuat 48 jam sebelum usulan gencatan senjata diberlakukan.

Dengan penolakan tersebut maka gencatan senjata diperkirakan batal.

Komandan pemberontak mengatakan mereka akan mematuhi gencatan senjata yang diusulkan Liga Arab-PBB, tetapi tidak secara langsung dengan Damaskus disaat pasukan pemerintah masih melakukan serangan.

Pemerintah pada hari Minggu kemarin meminta sebuah garansi tertulis dari pemberontak untuk mengakhiri serangan dan sebuah janji dari negara asing untuk tidak mendanai mereka.

Oposisi Suirah mengatakan permintaan baru tersebut adalah sebuah cara dari Presiden Bashar al-Assad untuk keluar dari rencana damai.

Kekerasan di Suriah meningkat menjelang kesepakatan gencatan senjata.

Pegiat HAM mengatakan lebih dari 70 orang tewas dalam insiden penyerangan hari Minggu, sehingga total korban sepanjang akhir pekan kemarin berjumlah 180.

Berkomitmen atas rencana

Kolonel Riya al-Asaad dari Tentara Pembebasan Suriah kepada kantor berita AFP mengatakan pasukannya ''berkomitmen atas rencana Annan''.

"Kami akan memberikan jaminan dan komitmen kami ke komunitas internasional, tetapi tidak bagi rezim Suriah.''

Gencatan senjata dijadwalkan berlangsung Selasa (10/04/12) setelah pasukan pemerintah ditarik dari sejumlah kawasan.

Tetapi hari Minggu kemarin, Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan keraguan atas kesepakatan ini, dengan mengatakan tidak ingin pemberontak menggunakan masa penarikan pasukan untuk berkonsolidasi dan mempersenjatai diri mereka lagi.

"Menyebut bahwa Suriah akan menarik pasukan pada tanggal 10 April adalah tidak tepat. Kofi Annan belum memberikan garansi tertulis dari kelompok teroris untuk mencegah semua kekerasan.''

Dalam pernyataan itu juga disebutkan bahwa pemerintah menunggu garansi dari pemerintah Qatar, Arab Saudi dan Turki ''untuk menghentikan pendanaan mereka bagi kelompok teroris''.

Juru bicara kementerian luar negeri Jihad Makdissi mengatakan: ''Suriah memiliki rencana untuk menarik militer dan siap dilakukan, tetapi menyelesaikan dan memenuhi tujuan utama tentu membutuhkan garansi dari pihak lain dan mereka yang mendukungnya.''

Sementara itu, utusan PBB-Liga Arab Kofi Annan, yang mengusulkan rencana gencatan senjata mengatakan peningkatan kekerasan saat ini sudah dalam tahap ''tak bisa diterima'' dan meminta pemerintah Suriah mematuhi komitmennya.

Lebih dari 9.000 orang tewas sejak aksi menentang Presiden Assad meletus setahun lalu.