Chen Guangcheng ingin pergi ke Amerika

Chen Guangcheng

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Chen Guangcheng akhirnya meninggalkan Kedubes AS di Beijing.

Aktivis Chen Guangcheng menginginkan untuk pergi ke Amerika Serikat daripada tinggal di Cina. Pernyataan itu disampaikan Chen kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

Saat Chen meninggalkan Kedubes AS pada Rabu (2/5) tempatnya bersembunyi selamaenam hari setelah kabur dari tahanan rumah, nampaknya dia puas dengan kesepakatan Cina dan Amerika Serikat.

Kesepakatan diplomatik kedua negara itu memungkinkan Chen dan keluarganya bisa hidup dalam kondisi yang lebih baik di Cina.

Namun kepada Reuters yang menghubunginya melalui telepon Kamis (3/5), Chen mengatakan dia berubah pikiran setelah berbicara dengan istrinya.

"Saya sekarang ingin pergi ke AS. Itu harapan saya," kata Chen yang saat dihubungi berada di sebuah rumah sakit di Beijing.

"Banyak sebab dan pertimbangan. Salah satunya adalah hak dan keselamatan saya tak terjamin di Cina," tambah dia.

Selain itu, lanjut Chen, istrinya menceritakan rumah keluarganya dikepung aparat keamanan Cina yang kemudian melakukan intimidasi.

"Saat saya berada di Kedubes AS, saya tidak bersama keluarga saya. Sehingga saya tidak mengetahui beberapa masalah. Setelah saya bertemu keluarga, pikiran saya berubah," ujar Chen.

"Saya harap AS bisa membantu saya meninggalkan Cina sesegera mungkin," harapnya.

Minta tolong

Kedubes AS Beijing

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Selama enam hari Chen Guangcheng berlindung di Kedubes AS di Beijing.

Wartawan BBC di Beijing Michael Bristow melaporkan sebelumnya pemerintah AS dan Cina mengatakan Chen meninggalkan kedubas AS atas keinginannya sendiri.

Namun, lanjut Bristow, berbagai kisah bermunculan setelah Chen meninggalkan persembunyiannya itu.

Seorang kawan dekat Chen, Zeng Jinyan yang juga adalah seorang aktivis, kepada BBC mengatakan dia telah berbicara dengan Chen dan memastikan aktivis itu memilih tinggal di Cina demi melindungi keluarganya.

Zeng mengatakan Chen tak mempunyai pilihan karena 'para bandit bertongkat' menunggunya dan keluarganya di kediaman mereka di Shandong.

"Dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya berkata, 'Tolonglah saya'." kata Zeng.

Aktivis dari kelompok advokasi hak asasi manusia ChinaAid yang berbasis di Texas, Bob Fu mengutip sumber yang bisa dipercaya mengatakan Chen terpaksa meninggalkan Kedubes AS karena keselamatan keluarganya terancam.

"Kami sangat prihatin atas perkembangan buruk ini jika laporan soal paksaan yang mengakibatkan Chen meninggalkan kedubes AS benar," kata Fu.

Amerika puas

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang mengunjungi Cina dalam sebuah kunjungan resmi menyatakan dia merasa puas dengan penyelesaian masalah Chen Guangcheng.

"Saya puas karena kami bisa memfasilitasi Chen Guangcheng baik saat tinggal dan meninggalkan kedubes AS sesuai dengan pilihan dia dan nilai-nilai yang kami anut," kata Clinton.

"Chen dan pemerintah Cina mencapai kesepakatan soal masa depannya, termasuk kesempatan untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam lingkungan yang aman," tambah dia.

Selanjutnya, tambah Clinton, hal terpenting adalah mewujudkan komitmen yang sudah dicapai atas masalah Chen Guangcheng ini.

"Pemerintah dan rakyat Amerika Serikat memiliki komitmen untuk tetap mengawasi hidup Chen dan keluarganya setelah masalah ini diselesaikan," janji Clinton.

Sedangkan juru bicara Kemenlu AS Victoria Nuland menegaskan selama berada di Kedubes AS di Beijing, Chen sama sekali tidak mengutarakan keinginannya meminta perlindungan politik AS.

"Dalam berbagai kesempatan Chen selalu menegaskan dia ingin tinggal di Cina, bersatu kembali dengan keluarganya, melanjutkan pendididkannya dan mereformasi negaranya, " demikian Victoria Nuland.