Rusia tolak sanksi terhadap Suriah

Vladimir Putin dan Francois Hollande

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Vladimir Putin dan Francois Hollande memberikan pernyataan berbeda tentang Suriah.

Presiden Rusia Vladimir Putin meminta agar Suriah diberikan kesempatan untuk menjalankan rencana perdamaian yang digagas Kofi Annan.

Pernyataan Rusia itu disampaikan untuk menghadapi tekanan dari negara-negara barat yang mendesak agar pemerintah Suriah diberikan sanksi tambahan.

Rusia selama ini merupakan sekutu Suriah.

As dan Inggris telah meminta Moskow untuk mengecam rezim Suriah sejak terjadinya pembunuhan massal di Houla, yang menewaskan 108 orang.

Sebelumnya, Moskow menentang resolusi Dewan HAM PBB terhadap Suriah.

Dalam sesi darurat Jumat lalu, dewan mengecam Suriah atas peristiwa pembunuhan massal di Houla dan mendesak dilakukan penyelidikan.

Tetapi Rusia menolak resolusi yang didukung AS, dan menyatakan tindakan itu tidak 'berimbang'.

Sementara itu, sebuah situs milik pemerintah AS mempublikasikan gambar citra satelit yang menunjukan adanya kuburan massal di wilayah Houla.

Tidak dapat ditoleransi

Suriah

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Pembunuhan massal di Houla, Suriah menewaskan 108 orang

Koresponden BBC melaporkan pernyataan Putin itu disampaikan setelah pertemuan dengan Presiden Prancis Francois Hollande, yang menekankan perbedaan antara Moskow dan Prancis mengenai konflik Suriah.

Dalam konferensi pers, Hollande meminta adanya tekanan dan sanksi tambahan, dan menyatakan pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad merupakan satu-satunya penyelesaian.

Dia mengatakan tindakan rezim Assad tidak dapat diterima dan tidak dapat ditoleransi.

"Tidak ada jalan keluar yang memungkinan dalam situasi ini kecuali dengan pengunduran diri Bashar Assad," kata Hollande.

Permintaan agar Presiden Suriah mengundurkan diri dipertanyakan oleh Putin.

"Kenapa kita berpikir bahwa jika kita mendorong pemimpin yang berkuasa mundur dari jabatan, kemudian esok secara umum keadaan akan menjadi lebih baik," kata Putin.

"Apa yang terjadi di Libia? Dan apa yang terjadi di Irak? Apakah disana lebih aman? Kami mengusulkan tindakan akurat, berimbang setidaknya di Suriah".

Dia mengatakan yang paling penting adalah untuk mencegah kondisi lebih buruk yaitu pecahnya perang saudara.

Kekerasan di Suriah semakin meningkat, meskipun enam poin rencana perdamaian yang digagas Kofi Annan sudah disepakati.

Dalam pemungutan suara, 41 orang anggota mendukung resolusi yang didukung AS, sementara Rusia, Cina dan Kuba menolaknya. Dua negara memilih abstain dan satu negara tidak hadir.