Oposisi Rusia gelar unjuk rasa besar

Massa berkumpul di Moskow pusat, Rusia, untuk mengikuti unjuk rasa besar pertama oleh oposisi sejak Vladimir Putin dilantik sebagai presiden pada Mei.
Para penyelenggara mengatakan demonstrasi hari Selasa (12/06) diadakan untuk menuntut pemilihan umum dan presiden baru.
Peserta ujuk rasa meneriakkan yel-yel, antara lain "Rusia akan bebas" dan "Rusia tanpa Putin". Mereka mengaku tidak takut meski polisi kemarin menggeledah rumah-rumah sejumlah aktivis oposisi.
"Mereka yang berjuang tidak mengenal takut," kata Valery Zagovny seperti dikutip kantor berita Reuters.
Valery Zagovny, 50, adalah seorang warga yang pernah bertugas di Afghanistan untuk militer Rusia.
Ketika demonstrasi berlangsung, beberapa situs berita independen tidak bisa diakses. BBC tidak bisa mengakses situs radio Moscow Echo, dan beberapa kantor berita melaporkan kesulitan mengakses situs surat kabar Novaya Gazeta.
Penggeledahan
Saluran televisi Dozhd mengatakan situsnya mengalami serangan maya dari sumber yang tidak diketahui.
"Kami berusaha memulihkan situs. Serangan dimulai pukul 11:00 waktu setempat," kata pemimpin redaksi Mikhail Zygar.
Unjuk rasa kali ini tidak diikuti oleh sejumlah penggerak utama oposisi karena mereka sedang menjalani pemeriksaan terkait protes bulan lalu.
Kemarin pihak berwenang Rusia menggeledah kediaman para aktivis yang dicurigai terlibat dalam demonstrasi bulan Mei.
Di antara rumah yang digeledah adalah kediaman pengacara dan blogger masalah korupsi, Alexei Navalny, dan apartemen pembawa acara televisi Ksenia Sobchak.
"Mereka mengambil uang saya, mereka mengambil telepon genggam saya jadi saya tidak mempunyai telepon genggam lagi. Mereka mengambil komputer, mereka mengambil semua peralatan elektronik, mungkin mereka mengira saya berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri," kata Ksenia Sobchak kepada BBC.
Amerika Serikat mengatakan penggerebekan itu merupakan upaya untuk membungkam kebebasan berbicara dan berkumpul.





























