Biografi Gandhi karya Lelyveld dilarang di Gujarat

Sumber gambar, AP
Penulis biografi Mahatma Gandhi menyayangkan larangan atas peredaran bukunya di negara bagian Gujarat, tempat kelahiran Gandhi.
Soalnya larangan itu didasarkan pada resensi di surat kabar, bukan setelah membaca isi lengkapnya.
Walau buku Joseph Lelyveld -yang berjudul Great Soul: Mahatma Gandhi and His Struggle With India- belum terbit di India, surat kabar memang sudah memuat resensinya berdasarkan terbitan Inggris dan Amerika.
Yang diangkat dalam resensi adalah bagian dari buku yang membahas hubungan dekat pemimpin kemerdekaan India itu dengan temannya, seorang arsitek Jerman, yang suka latihan kebugaran dan bisa jadi seorang homoseksual.
Resensi buku juga menyebut Gandhi menyampaikan komentar yang rasis tentang orang Afrika. Hal tersebut tidak bisa diterima oleh politisi di tempat kelahiran Gandhi.
Melukai perasaan
Majelis negara bagian Gujarat, berdasarkan suara bulat, sudah memutuskan untuk melarang penjualan biografi itu.
Menteri Besar Gujarat, Narendra Modi, menyebutkan pengarangnya mencerminkan"mentalitas sesat" saat menulis buku yang -menurut dia- melukai perasaan rakyat banyak.
"Buku itu mencemarkan Mahatma dan kemarahan meningkat, bukan hanya di Gujarat tapi di seluruh negara."
"Mentalitas yang terlihat dalam buku itu tidak hanya layak dikecam sekeras mungkin, juga tidak bisa ditolerir," tambahnya.
Larangan atas penerbitan maupun peredaran buku itu di negara bagian Gujarat langsung diberlakukan.
Sementara di Delhi, Menteri Kehakiman mengatakan pemerintah pusat sebaiknya mengikuti langkah tersebut dan mengambarkan buku itu sebagai klenik sensasional yang tidak beralasan dan mencemarkan pemimpin nasional.
Tidak ada kata biseksual

Sumber gambar, AP
Bagaimanapun Lelyveld membantah jika dituduh menggambarkan Mahatma Gandhi sebagai homoseksual dan rasis.
"Saya tidak menuduh Gandhi rasis atau biseksual dalam buku Great Soul," katanya kepada surat kabar Times of India.
"Kata biseksual tidak muncul di manapun dalam buku itu."
Josep Lelyveld -mantan redaktur Harian New York Times yang pernah meraih penghargaan Pullitzer- menyayangkan jika sebuah negara yang mengaku demokrasi melarang sebuah buku sebelum benar-benar membacanya.
Dalam resensi yang dimuat di surat kabar India, antara lain dikutip surat dari Mahatma Gandhi dengan teman dekatnya, Hermann Kallenbach, seorang warga Jerman keturunan Yahudi.
"Bagaimana kau sepenuhnya sudah mengambil kepemilikan tubuhku. Ini benar-benar perbudakan dengan balas dendam," seperti tertulis dalam surat Gandhi.
Para wartawan menduga larangan atas buku itu akan meluas, bukan hanya di Gujarat saja karena stigma atas homoseksual yang masih melekat.
Secara hukum homoseksual baru dinyatakan tidak melanggar hukum pada tahun 2009.





























