5 Drone Tempur Tercanggih di Dunia, Nomor 3 Sudah Dipesan oleh Indonesia
Drone Tempur tanpa awak (Unmanned Combat Aerial Vehicles/UCAV) saat ini sedang mendominasi medan perang

Pesawat nirawak (drone) tempur menjadi salah salah satu alternatif alat perang di banyak negara karena tidak memiliki risiko korban jiwa seperti pilot jet tempur.
Drone Tempur tanpa awak (Unmanned Combat Aerial Vehicles/UCAV) saat ini sedang mendominasi medan perang. Drone-drone militer terbaik di dunia kini membawa kemampuan serangan yang presisi, pengintaian, dan pengawasan yang dahulu tidak mungkin dilakukan. Semua serangan mematikan ini tidak memiliki risiko nyawa terhadap operator manusia.
Mulai dari MQ-9 Reaper yang tangguh di medan tempur, Bayraktar TB2 yang mematikan sekaligus terjangkau, hingga platform-platform baru dari China dan Rusia. Drone-drone canggih ini sangat membentuk masa depan peperangan udara, demikian dilansir Aero Time.
Berikut adalah 5 drone tempur terkuat 2025:
1. General Atomics MQ-9 Reaper

MQ-9 Reaper asal Amerika Serikat (AS) ini menjadi salah satu drone militer tercanggih dan telah terbukti di medan perang. Jenis ini terkenal karena jangkauannya yang jauh dengan kemampuan membawa senjata dalam jumlah besar. Dirancang sebagai penerus MQ-1 Predator, drone ini merupakan aset penting bagi militer AS dan sekutunya di seluruh dunia.
Drone canggih ini dikembangkan oleh General Atomics pada awal 2000-an dan pertama kali terbang pada 2001, serta resmi bertugas di Angkatan Udara AS sejak 2007. Daya tahannya dapat terbang hingga 27 jam dengan jangkauan 1.8 kilometer. MQ-9 dapat beroperasi semi otomatis dan dikendalikan jarak jauh via satelit.
MQ-9 memegang peran utama dalam hal serangan, pengintai, dan pengawasan. Kapasitas angkut yang mampu dibawa drone ini mencapai 1.700 kilogram. Beberapa jenis persenjataan yang dapat diangkut mencakup rudal AGM-114 Hellfire, bom JDAM, serta bom berpemandu laser GBU-12 Paveway.
Saat ini, MQ-9 telah dioperasikan oleh 10 negara, seperti Prancis, Inggris, Italia, Belanda, Spanyol, India, dan lainnya. Dalam hal penggunaan tempur, drone ini telah digunakan diberbagai daerah dengan konflik besar seperti yang terjadi di Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, dan Somalia. MQ-9 Reaper ini diperkirakan seharga USD 30-40 Juta atau setara dengan Rp 480- 640 Miliar per unit.
2. Bayraktar TB2

Drone canggih peringkat kedua ini berasal dari Turki, dikembangkan oleh Baykar Defense dan dikenal dengan harganya yang terjangkau dan mudah dioperasikan tetapi terbukti mematikan. Bayraktar TB2 adalah salah satu yang paling sering digunakan saat ini.
TB2 pertama kali terbang pada 2009 dan resmi bertugas di militer Turki sejak 2014. Kesuksesannya di medan perang seperti Suriah, Libya, Nagorno-Karabakh, dan Ukraina membuatnya kini diakui sebagai salah satu drone terbaik dunia.
Peran utama Bayraktar terkenal pada misi ISR (Intelligence, Surveillance, Reconnaissance) atau pengintaian dan pengawasan intelijen. Drone ini dirancang untuk membawa muatan seberat 150 kg, termasuk persenjataan berpemandu seperti MAM-L dan MAM-C buatan Turki yang dirancang khusus untuk sasaran taktis.
Dari segi harga, TB2 tergolong murah untuk kelas drone tempur. Harga per unitnya berkisar antara USD 5-10 Juta atau setara dengan Rp 80-160 Miliar. Dengan harga yang terjangkau, drone ini teruji mampu menghadapi militer canggih dan menghancurkan pertahanan udara, tank, serta kendaraan lapis baja milik Rusia.
Selain digunakan di Turki, TB2 juga beroperasi di Azerbaijan, Qatar, Ethiopia, dan Libya. Menariknya, terdapat satu negara NATO yang telah membeli drone ini, yakni Polandia. Sejak aktif, drone asal Turki ini telah mencatat lebih dari satu juta jam terbang dan lebih dari 600 unit telah diproduksi.
3. TAI Anka

TAI Anka juga berasal dari Turki. Meski tak sepopuler TB2, namun drone ini dapat bersaing dengan daya tahan yang lebih lama dan kapasitas muatan senjata yang lebih besar. Anka awalnya dirancang untuk pengawasan jarak jauh, namun kini telah bertransformasi menjadi drone tempur.
Anka pertama kali terbang pada 2019 dan mulai resmi bertugas di Angkatan Udara Turki pada 2016. Varian terbaru Anka-S dilengkapi antena SATCOM dan sistem persenjataan lengkap. Drone ini memiliki daya tahan 30+ jam dan mampu melakukan misi jarak jauh lebih lama dari TB2.
TAI Anka termasuk kedalam kategori MALE UAV (Medium Altitude Long Endurance) yang berarti perannya mampu terbang di ketinggian menengah dengan daya tahan lama. Drone ini dirancang untuk dua fungsi utama, yakni ISR dan serangan presisi terhadap target.
Dengan kapasitas muatan yang mencapai 359 kilogram, Anka mampu membawa perangkat canggih seperti sensor pengintaian SAR (Synthetic Aperture Radar), EO/IR (Electro-Optical/Infrared), serta perlengkapan perang elektronik seperti SIGINT (Signal Intelligence) dan COMINT (Communication Intelligence).
Harga yang ditawarkan untuk setiap unit Anka sekitar USD 10-20 Juta atau setara Rp 160-320 Miliar. Angka tersebut relatif lebih terjangkau dibandingkan drone sekelasnya yang berasal dari barat.
Hingga saat ini, Anka telah digunakan di berbagai negara seperti Chad, Kazakhstan, Tunisia. Dikabarkan bahwa Indonesia, Uzbekistan, Pakistan, dan Aljazair telah memesan drone canggih ini.
4. CAIG Wing Loong II

Wing Loong II adalah drone MALE buatan Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG) dari China. Didesain untuk berbagai macam misi, drone ini versi MQ-9 dengan harga yang jauh lebih murah.
Wing Loong II adalah drone MALE (medium altitude, long endurance) buatan Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG) dari China. Didesain untuk berbagai misi, drone ini merupakan alternatif dari MQ-9 dengan harga yang jauh lebih murah.
Pertama kali diperkenalkan pada 2015, penerbangan perdana Wing Loong II adalah pada 2017 dan langsung memasuki layanan. Daya tahan drone ini mampu terbang hingga 32 jam meski hanya 20 jam berada dalam kecepatan maksimum.
Peran utama Wing Loong II adalah dirancang untuk melakukan serangan presisi dan pengintaian atau pemantauan (surveillance). Drone ini masuk ke dalam kelas MALE UAV seperti TAI Anka dan telah menjadi salah satu alat tempur yang dapat diandalkan dan diadopsi oleh banyak negara, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika.
Kapasitas drone ini mencapai 480 kg dan dapat dipersenjatai dengan rudal anti-tank HJ-10 serta berbagai bom presisi. Kekuatan tempurnya telah teruji di berbagi konflik nyata seperti di Yaman dan Libya, yang melibatkan negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sebagai operator utama.
Kelebihan lain Wing Loong II adalah harganya yang kompetitif, yakni sekitar USD 1-5 Juta per unit (Rp 16-80 Miliar). Dengan harga tersebut, drone ini menjadi yang paling terjangkau di pasaran, terutama jika dibandingkan dengan MQ-9 Reaper buatan AS.
5. Kronshtadt Orion

Kronshtadt Orion adalah Drone Male pertama yang sepenuhnya dibuat di Rusia. Dikembangkan oleh Kronstadt Group sejak 2011 dan pertama kali terbang pada 2016. Pada 2020, drone ini resmi masuk ke dalam layanan militer Rusia.
Dikenal luas sebagai Inokhodets atau ‘penjelajah’, drone sepanjang 8 meter ini dapat membawa empat bom pemandu atau rudal dengan muatan 250 kilogram. Dengan muatan sebesar itu, Orion dapat dilengkapi dengan berbagai macam senjata buatan Rusia seperti bom berpemandu KAB-20 dan KAB-50, serta rudal udara-ke-darat Vikhr-1.
Peran utama drone ini dalam pertempuran adalah kemampuannya sebagai ISR atau pengintai dan pemantauan intelijen serta serangan presisi terhadap target darat. Drone ini memiliki daya tahan 24 jam dan menjadi jembatan antara drone taktis kecil dengan strategis besar.
Orion terbukti secara aktif terlibat dalam beberapa konflik besar, seperti di Suriah dan Ukraina. Harganya tergolong terjangkau, yakni sekitar USD 5-10 Juta per unit (Rp 80-160 Miliar). Dengan harga tersebut, menempatkan Orion sebagai alternatif bagi negara-negara yang tengah mencari drone tempur berkemampuan tinggi tetapi tidak semahal buatan barat.
Saat ini, Orion hanya dioperasikan oleh Rusia, tetapi aktif mencari pelanggan internasional untuk platform tersebut. Versi ekspor Orion-E telah dipromosikan kepada pelanggan di Afrika, Asia, dan Timur Tengah sebagai alternatif drone asal China dan Turki.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481371/original/037143900_1769091608-Presiden_Prabowo_Subianto_di_WEF-3.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481376/original/075507400_1769092696-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_21.15.44.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5212278/original/085926800_1746607936-Inter_Milan_vs_Barcelona-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478810/original/094393800_1768927580-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456859/original/027443500_1766978470-Bahlil_Lahadalia.jpeg)



















