Apa Itu Strawberry Generation? Mengapa Mereka Rapuh? Ini Penjelasannya
Generasi baru sering kali dihadapkan pada sejumlah tantangan, dan istilah "Strawberry Generation" muncul sebagai deskripsi bagi generasi yang dianggap rapuh.


Apa Itu Strawberry Generation? Mengapa Mereka Rapuh? Ini Penjelasannya

Generasi baru sering kali dihadapkan pada sejumlah tantangan, dan istilah "Strawberry Generation" muncul sebagai deskripsi bagi generasi yang dianggap rapuh dan mudah menyerah.
Prof. Rhenald Kasali mendefinisikan Strawberry Generation sebagai generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Istilah ini berasal dari Taiwan, yang menyebut generasi ini seperti buah strawberry—indah dan eksotis namun mudah hancur saat dipijak.
Generasi ini terkenal dengan kreativitasnya yang melimpah, terutama yang terungkap di media sosial. Namun, di balik ide-ide brilian, muncul juga keluhan dan resah yang melanda suasana hati mereka.

Gagasan Kreatif dan Mudah Menyerah

Prof. Kasali mencatat bahwa banyak dari mereka melakukan "self-diagnosis" tanpa konsultasi dengan ahli. Hal ini sering kali melibatkan interpretasi yang tidak tepat terhadap informasi yang mereka dapatkan dari sosial media.
Quarter Life Crisis dan Tekanan Sosial Media
Anak muda, khususnya yang berusia sekitar 25 tahun, sering mengalami quarter life crisis.
Tekanan untuk mencapai pencapaian tertentu dalam waktu yang singkat dapat menciptakan kecemasan yang berlebihan. Media sosial menjadi pembesar masalah ini dengan mempublikasikan pencapaian teman-teman sebaya, meningkatkan rasa tidak aman dan kekhawatiran.

Pendidikan dan Keluarga Sejahtera
Pendidikan dan keluarga berperan penting dalam membentuk karakter Strawberry Generation.
Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, memberikan kompensasi materi daripada waktu, dan menetapkan harapan yang tidak realistis dapat berkontribusi pada kelemahan generasi ini.
Setting ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita juga menjadi masalah, membuat anak sulit menanggung kekecewaan di dunia nyata.
Faktor lain yang memengaruhi generasi ini adalah overthinking, terutama terkait dengan self-diagnosis. Informasi yang berlimpah di media sosial membuat mereka cenderung mencari solusi sendiri tanpa konsultasi ahli. Overthinking ini dapat memicu quarter life crisis dan masalah kesehatan mental.

Overthinking dan Self-Diagnosis
Prof. Rhenald Kasali menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi fenomena Strawberry Generation:

Solusi dan Alternatif
2. Hati-hati dengan Self-Diagnosis: Perlu menghadapi situasi dengan sekuat tenaga dan tidak terjebak dalam perangkap sosial media.

1. Meningkatkan Literasi: Anak muda perlu memvalidasi informasi dengan membaca buku dan mendapatkan pengetahuan dari sumber-sumber terpercaya.
3. Peran Orang Tua: Orang tua harus memberikan konsekuensi atas kesalahan anak, tidak terlalu memanjakan, dan mengajarkan pemahaman tentang realitas kehidupan.
4. Peran Pendidik: Pendidik perlu menciptakan lingkungan yang menyenangkan dalam pembelajaran dan memahami bahwa keberhasilan tidak hanya tergantung pada nilai akademis.


5. Peran Generasi Muda: Generasi muda perlu menjawab tantangan zaman dengan eksplorasi dan adaptasi terhadap perubahan.
Generasi Z dan generasi sebelumnya memiliki perbedaan dalam gaya komunikasi. Untuk mengatasi perbedaan ini, perlu adanya kolaborasi yang baik di tempat kerja. Generasi yang lebih tua dapat memberikan konseling mental, sementara generasi muda membawa inovasi dan kreativitas dalam menghadapi tantangan.

Kolaborasi Antar Generasi
Strawberry Generation memiliki karakteristik positif seperti kreativitas dan adaptasi teknologi, tetapi juga negatif seperti mudah rapuh dan kurangnya tanggung jawab. Faktor seperti didikan, self-diagnosis, dan tekanan sosial media memainkan peran dalam membentuk karakter ini.

Karakteristik Positif dan Negatif Strawberry Generation
Solusi untuk membuat Strawberry Generation lebih tangguh melibatkan literasi, pendekatan tegas dari orang tua, dan penyesuaian sistem pendidikan.
Harapan ke depan adalah agar generasi ini dapat mengoptimalkan potensi kreativitas dan inovasi mereka tanpa terperangkap dalam ketidakpastian dan kecemasan yang tidak perlu.
Kolaborasi antar generasi dan peran positif dari pendidikan serta keluarga dapat membentuk masa depan yang lebih baik untuk generasi ini.














:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490029/original/088865800_1769967231-Kebakaran_hanguskan_ruko_tekstil_di_Tangsel.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489989/original/007869000_1769955452-Potret_miris_Lampung.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490023/original/041903300_1769964386-angin-kencang.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5392257/original/083578700_1761414738-casemiro-manchester-united-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/879161/original/036317500_1431943417-PENGAMANAN_JALANNYA_SIDANG_-_JOHAN_TALLO__2_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490007/original/055967700_1769959626-Evakuasi_murid_SMK_lompat_ke_sungai.jpg)


















