Warisan Ki Hajar Dewantara Setelah 1 Abad Berlalu
Sekitar seratus tahun lalu, Ki Hajar Dewantara melahirkan tempat ini.

Senyum semringah terpancar dari wajah tujuh bocah usia tujuh tahun. Mereka berjejer membentuk satu baris. Tangan di angkat ke atas sambil bernyanyi dan menari. Lima meter di depannya, tampak dua guru berjilbab dan enerjik mengarahkan anak-anak berseragam biru muda.
Menari dan bernyanyi menjadi salah satu program pendidikan di Taman Siswa, Yogyakarta.Di pendopo yang luasnya seperempat lapangan bola, anak-anak tampak fokus dan ceria mengikuti instruksi gurunya yang ramah dan penuh senyum mengajarkan anak-anak.
Sekitar seratus tahun lalu, Ki Hajar Dewantara melahirkan tempat ini. Tepatnya, 3 Juli 1922. Pendirian Perguruan Tamansiswa ini lahir karena adanya diskriminasi pendidikan bagi kaum Bumi Putera. Sistem pendidikan dan sekolah kala itu dinilai hanya menguntungkan penjajah kolonial dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
Saat itu pendidikan hanya boleh dienyam oleh kelompok priyayi dan keturunan Indo-Belanda. Sistem pendidikan itu juga dinilai hanya mencetak pegawai bagi pemerintah kolonial. Kondisi itu melatarbelakangi lahirnya Perguruan Kebangsaan TamansiswaSaat itu, Tamansiswa didirikan di rumah Ki Hajar Dewantara yang berada di Jalan Tunjung no 28 Kota Yogyakarta yang sekarang telah berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada.
Bagi seorang Ki Hajar Dewantara, pendidikan tak hanya sekadar membuat pintar seorang siswa namun juga bagian dari menanamkan moral, etika dan rasa cinta tanah air. Di awal pendiriannya, Tamansiswa tak hanya sebuah sekolah ataupun gedung tempat belajar mengajar. Namun Tamansiswa adalah simbol perlawanan pada kolonialisme dan sistem pendidikannya.
Tamansiswa memberikan tawaran sistem pendidikan yang humanis dan sesuai kebutuhan masyarakat Bumi Putera saat itu.Jenjang pendidikan pertama yang dibuka di Tamansiswa adalah Taman Lare atau Taman Indria. Sekolah ini ditujukan untuk anak di bawah umur 7 tahun.
Pada 7 Juli 1924, Tamansiswa melengkapi perguruannya dengan pendidikan bagi pengajar atau pamong. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan MULO-Kweekschool.Setelahnya Ki Hajar Dewantara membuka Taman Muda, Taman Dewasa, Taman Madya dan Sarjana Wiyata.
Dari Tamansiswa ini Ki Hajar Dewantara merumuskan Patrap Triloka. Patrap Triloka ini adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.Kiprah Ki Hajar Dewantara di bidang pendidikan ini membuat Presiden Soekarno pada tahun 1945 mengangkatnya menjadi Menteri Pendidikan Indonesia.
Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 29 April 1959.Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 305 tahun 1959 yang dikeluarkan pada 28 November 1959, SK ini berisikan penetapan Ki Hajar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional dan menetapkan 2 Mei menjadi Hari Pendidikan Nasional.
Tamansiswa Masa Kini

Peran Tamansiswa dalam dunia pendidikan di Indonesia tak bisa dilupakan begitu saja. Tahun ini, Tamansiswa kembali menyerukan pentingnya sistem pembelajaran yang digagas Ki Hajar Dewantara untuk membenahi dunia pendidikan Indonesia.
Ketua Majelis Luhur Tamansiswa Pusat Ki Gandung Ngadina mengatakan, pendidikan Indonesia tak bisa lepas dari sejarah Ki Hajar Dewantara dan Tamansiswa. Ki Gandung mengajak masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk kembali mengenang buah pikir Ki Hajar Dewantara untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.
Ki Gandung menilai pondasi utama pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah Tri Pusat Kebudayaan. Dalam konsep ini, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara tidak hanya berlangsung di sekolahan tapi juga dikeluarga dan masyarakat.
"Konsep Ki Hajar Dewantara yakni Tri Pusat Kebudayaan yakni keluarga, masyarakat dan sekolah harus kembali diaktifkan lagi. Pendidikan, tidak hanya ada di sekolah tapi juga dikeluarga dan masyarakat," tegas Ki Gandung saat dihubungi, Jumat (2/5).
"Kalau kita lihat hari ini banyak berita anak melakukan kekerasan di jalanan maupun menjadi korban kekerasan di rumah. Ini bukti bahwa saat ini peran keluarga dan masyarakat dalam pendidikan tak lagi berjalan optimal," lanjut Ki Gandung.
Selain itu, sambung Ki Gandung, Ki Hajar Dewantara juga memiliki konsep Trilogi Kepemimpinan atau Patrap Triloka yang masih relevan dengan kondisi saat ini. Patrap Triloka ini adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan).
"Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara ini masih relevan dengan Indonesia saat ini. Ki Hajar telah memberikan arah bagi pendidikan kita. Nah tugas kita saat ini adalah menjaga dan menghidupkan lagi ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara untuk memperbaiki dunia pendidikan Indonesia," urai Ki Gandung.
Terkait perkembangan Tamansiswa saat ini, Ki Gandung menyebut Tamansiswa terus melebarkan sayapnya di bidang pendidikan. Saat ini total ada 123 sekolah yang dikelola Tamansiswa. Jumlah ini tersebar di seluruh Indonesia.
"Target kita agar cabang-cabang Tamansiswa ini ke depannya bisa berkembang lebih maju. Selain itu kita juga ingin menggaungkan lagi pemikiran soal Tri Pusat Pendidikan dimana keluarga, masyarakat dan sekolah bisa berperan aktif lagi dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia," tutup Ki Gandung.
Sejarah Perlawanan

Nama Tamansiswa tak bisa dilepaskan dari sosok bernama RM Soewardi Soerjaningrat atau dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta 2 Mei 1889, kelak tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara ini ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional.
Dikutip dari tulisan Ki Sunardi HS di website Tamansiswa, berdirinya Tamansiswa tak lepas dari paguyuban yang dinamai Selasa Kliwonan atau disingkat Sa Ka yang berarti tiang masyarakat. Selasa Kliwonan ini dipimpin oleh Ki Ageng Suryomentaraman.
Paguyuban ini selalu berkumpul dan berdiskusi tentang kondisi masyarakat di tengah penjajahan Belanda setiap malam Selasa Kliwon.Ki Hajar Dewantara bergabung dengan Paguyuban Selasa Kliwonan ini sepulangnya dari pengasingan ke Belanda. Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Belanda dari tahun 1913-1919.
Pengasingan Ki Hajar Dewantara ini salah satunya karena kemarahan pemerintah Belanda atas tulisnya berjudul 'Andaikan Aku Seorang Belanda (Als Ik Eens Nederlander Was). Tulisan ini berisikan kritikan Ki Hajar Dewantara yang menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia. Tulisan ini dimuat di surat kabar De Expres.
Selama diasingkan di Belanda, Ki Hajar Dewantara memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan dan kebudayaan. Di Belanda, Ki Hajar Dewantara mulai mengenal gagasan-gagasan dari Dokter Frobel yang mendirikan sekolah anak-anak bernama Kindergaten. Gagasan dari Maria Montessori seorang dokter asal Italia dengan sekolah bernama Casa dei Bambini juga punya pengaruh pada pandangan Ki Hajar Dewantara soal pendidikan bagi anak-anak Indonesia.
Usai diasingkan ke Belanda, Ki Hajar Dewantara pun kembali ke Yogyakarta ditahun 1921. Setelahnya Ki Hajar Dewantara aktif di Paguyuban Selasa Kliwonan.
Dari Paguyuban Selasa Kliwonan ini munculah analisa tentang kondisi terkini masyarakat di bawah penjajahan Belanda. Untuk mencapai kemerdekaan, anggota-anggota Paguyuban Selasa Kliwonan ini menilai selain dibutuhkan pergerakan politik dibutuhkanlah pula pendidikan rakyat.
Saat itu, Ki Hajar Dewantara ditugasi untuk memimpin pendidikan anak-anak sedangkan Ki Ageng Suryamentaraman mendapat tugas memimpin pendidikan untuk orang dewasa atau tua.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484783/original/018265600_1769484757-1000162338.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485621/original/068828500_1769516121-Foto_2.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5392751/original/035250300_1761511473-eric_garcia_real_madrid_vs_barcelona.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485072/original/040541400_1769494130-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485588/original/085396000_1769514344-0127__9__1_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3563902/original/063957200_1631001469-todd-cravens-IY1sRDxNWN4-unsplash.jpg)












