AI Bisa Jadi Pemicu Perang Nuklir
SIPRI menyoroti bagaimana penggunaan AI yang semakin luas, terutama dalam proses deteksi dan pengambilan keputusan.

Lembaga riset global Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) memperingatkan adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem militer bisa berbahaya. Terutama hal itu dapat meningkatkan risiko terjadinya perang nuklir secara tidak sengaja.
Dalam laporan terbarunya, SIPRI menyoroti bagaimana penggunaan AI yang semakin luas, terutama dalam proses deteksi dan pengambilan keputusan, bisa mempercepat eskalasi konflik antara negara-negara pemilik senjata nuklir.
“Ketika teknologi baru mempercepat proses pengambilan keputusan dalam situasi krisis, risiko pecahnya perang akibat miskomunikasi atau bahkan kesalahan teknis juga ikut meningkat,” kata Direktur SIPRI Dan Smith dalam rilis resmi lembaganya dikutip DailyMail, Rabu (18/6).
Laporan SIPRI ini dirilis di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan modernisasi arsenal nuklir sejumlah negara. Tiongkok tercatat telah menambah stok hulu ledaknya dari 500 menjadi 600 dalam setahun terakhir. Sementara itu, perjanjian pengendalian senjata terakhir antara Amerika Serikat dan Rusia juga akan segera berakhir.
“AI memang berpotensi meningkatkan efektivitas pemantauan kesepakatan senjata nuklir. Tapi penggunaannya yang sembrono justru bisa berbahaya,” ujar Smith.
SIPRI menyebut perlombaan senjata kini tak hanya soal jumlah dan daya ledak, tetapi juga teknologi pendukung seperti AI. Smith menekankan bahwa negara-negara kini berlomba-lomba mengembangkan sistem AI baik untuk tujuan ofensif maupun defensif.
“Ini perlombaan senjata generasi baru. AI bisa mempercepat proses, tapi juga mempercepat kesalahan,” tambahnya.
Situasi ini diperparah oleh dinamika kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyerukan evakuasi warga sipil dari Tehran, Iran, di tengah baku serang lima hari antara Iran dan Israel. Ia menyalahkan Iran karena menolak menandatangani perjanjian pembatasan senjata nuklir.
“Secara sederhana, IRAN TIDAK BOLEH MEMILIKI SENJATA NUKLIR. Saya sudah katakan ini berulang kali. Semua orang harus segera meninggalkan Tehran!” tulis Trump melalui Truth Social.
Sementara itu, media lokal Nournews melaporkan tiga orang tewas dan empat lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel di kota Kashan, Iran. Konflik ini juga menjadi sorotan dalam KTT G7 di Kanada, di mana para pemimpin dunia mendesak deeskalasi dan menyebut Iran sebagai sumber ketidakstabilan regional.
Meski demikian, Trump membantah kabar bahwa dirinya keluar dari KTT untuk mengurus kesepakatan damai. “Salah! Saya menuju Washington bukan karena gencatan senjata. Ini jauh lebih besar dari itu,” tulisnya.
SIPRI mengingatkan bahwa pengambilan keputusan berbasis AI dalam sistem senjata, khususnya yang berkaitan dengan peluncuran nuklir, harus diawasi secara ketat.
“Mengandalkan algoritma dalam situasi krusial seperti konflik nuklir sangat berisiko. Kita harus memastikan manusia tetap berada di posisi kendali akhir,” pungkas Smith.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481371/original/037143900_1769091608-Presiden_Prabowo_Subianto_di_WEF-3.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481376/original/075507400_1769092696-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_21.15.44.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5212278/original/085926800_1746607936-Inter_Milan_vs_Barcelona-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478810/original/094393800_1768927580-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5456859/original/027443500_1766978470-Bahlil_Lahadalia.jpeg)





















