Mengapa Bisnis Viral Tidak Bisa Bertahan?
Bisnis kuliner viral memang cenderung tidak memiliki fondasi yang kuat untuk bertahan dalam jangka panjang.

Dalam beberapa tahun terakhir, jagat media sosial Indonesia dipenuhi dengan deretan usaha kuliner yang mendadak viral. Dari kedai kopi estetik, restoran tematik, hingga gerai makanan dengan konsep unik. Namun, di balik popularitas kilat tersebut, banyak bisnis kuliner viral yang akhirnya tak mampu bertahan lama.
Kasus terbaru datang dari luar negeri. Karen’s Diner, restoran cepat saji asal yang sempat viral karena konsep pelayanannya yang “jutek dan nyebelin”, resmi dinyatakan bangkrut.
Di masa kejayaannya, restoran ini dikenal karena menyajikan makanan disertai pengalaman dilayani dengan sikap tak ramah sesuatu yang nyeleneh dan dianggap lucu oleh sebagian pelanggan.
Namun, setelah popularitasnya meredup, manajemen Karen’s Diner memutuskan tidak memperpanjang kontrak sewa. Bahkan, lokasi terakhir di London akan resmi ditutup pada akhir Juni 2025, menyusul lonjakan tarif sewa dan biaya operasional yang tak lagi tertutupi oleh pendapatan.
Menurut Pengamat bisnis Teguh Hidayat, fenomena bisnis viral cenderung mudah gulung tikar bukanlah hal mengejutkan. Ia mengatakan bahwa bisnis kuliner viral memang cenderung tidak memiliki fondasi yang kuat untuk bertahan dalam jangka panjang.
"Kalau bisnis seperti Karen’s Diner itu sebenarnya eksperimen. Di luar negeri bisa berhasil karena sesuai dengan budaya dan selera setempat. Tapi ketika dibawa ke Indonesia, konsep yang sama belum tentu cocok," ujar Teguh saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Kamis (12/6).
Menurut Teguh, banyak pemilik bisnis terlalu mengandalkan tren viral di media sosial untuk mendongkrak penjualan. Mereka berlomba mendapatkan atensi dengan menggandeng influencer, food vlogger, atau membuat konsep yang unik tapi instan. Namun, yang sering terlupakan adalah elemen dasar dari bisnis kuliner itu sendiri rasa dan kualitas produk.
"Orang jadi penasaran karena lihat tempat makan baru di TikTok atau YouTube, direview food vlogger, akhirnya ramai. Tapi kalau rasa makanannya tidak sesuai ekspektasi, ya orang hanya datang sekali, lalu tidak kembali," katanya.
Salah satu jebakan dari fenomena viral adalah efek FOMO (Fear of Missing Out). Konsumen datang bukan karena butuh atau ingin menikmati rasa makanan, tetapi hanya ingin "ikut-ikutan" tren dan bisa memamerkannya di media sosial.
Aji Mumpung
Teguh juga menyoroti bahwa banyak pemilik bisnis menaikkan harga secara drastis ketika melihat jumlah pengunjung meningkat. Alih-alih memperkuat kualitas dan konsistensi produk, mereka justru berfokus pada eksploitasi momentum.
"Kalau makanannya enggak enak, harganya mahal, ya viralnya cuma bertahan setahun. Setelah itu orang bosan dan enggak balik lagi. Dan ketika tren itu mati, tidak ada pelanggan setia yang bisa dijadikan penopang bisnis," imbuhnya.
Menurut Teguh, langkah ini justru merugikan bisnis itu sendiri. Konsumen yang kecewa dengan harga dan rasa akan segera mencari alternatif lain.
Teguh menyarankan agar pelaku usaha kuliner tidak hanya terpaku pada strategi pemasaran viral. Menurutnya, membangun bisnis kuliner yang berkelanjutan harus berangkat dari kualitas rasa makanan yang autentik, pelayanan yang baik, hingga pengalaman makan yang memuaskan secara keseluruhan.
"Popularitas instan tidak bisa dijadikan fondasi bisnis. Fokuslah pada kualitas produk, konsistensi, dan kepuasan pelanggan. Kalau makanan enak, harga masuk akal, dan pelayanan baik, orang akan datang kembali meskipun tanpa viral sekalipun," tegas Teguh.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa membangun loyalitas pelanggan adalah kunci utama. Karena dalam dunia kuliner, pelanggan yang kembali adalah aset paling berharga dibanding ribuan pengunjung yang datang hanya demi tren semata.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5158422/original/012721900_1741665141-kata-kata-untuk-stop-bullying.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475190/original/073855700_1768554990-TPA_Benowo_mengubah_sampah_menjadi_energi_listrik.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2818452/original/068180400_1559103065-Screenshot_2019-05-13-17-09-10-899_com.miui.videoplayer.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475125/original/017162900_1768551859-Biawak_terjepit_pintu.png)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475071/original/079119100_1768549321-WhatsApp_Image_2026-01-16_at_14.36.03.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474799/original/092220700_1768536164-1000685319.jpg)



















