Pertengkaran Makin Sengit, Donald Trump Ancam Deportasi Elon Musk
Elon Musk, yang merupakan orang terkaya di dunia, dikenal sebagai salah satu donor utama untuk kampanye Trump dalam Pilpres AS 2024.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mendeportasi Elon Musk. Pernyataan ini muncul setelah miliarder asal Afrika Selatan tersebut mengkritik rancangan undang-undang (RUU) yang menjadi andalan pemerintahannya mengenai anggaran negara.
Trump juga menambahkan bahwa Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), yang sebelumnya dipimpin oleh Musk sebelum dia mengundurkan diri pada akhir Mei, mungkin akan diperintahkan untuk menyelidiki subsidi pemerintah yang diterima oleh pendiri Tesla dan SpaceX tersebut.
"Saya tidak tahu. Kita harus melihat dulu," ungkap Trump kepada para wartawan di Gedung Putih ketika ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk mendeportasi Musk, seperti yang dilansir oleh CNA.
Trump juga mengungkapkan ancamannya dengan menyatakan bahwa ida yakin Musk mengkritik RUU yang disebutnya sebagai' 'One Big Beautiful Bill' karena ketidakpuasan terhadap penghapusan beberapa ketentuan yang mendukung kendaraan listrik (EV).
"Dia kehilangan mandat EV-nya. Dia sangat kesal dengan berbagai hal, tapi kalian tahu, dia bisa kehilangan jauh lebih banyak dari itu, saya bisa katakan sekarang. Elon bisa kehilangan jauh lebih banyak dari itu," kata Trump.
Apa yang Terjadi antara Trump dan Musk?
Pada malam Senin (30/6), Trump mengungkapkan pernyataan serupa di platform media sosialnya, Truth Social. Ia menyatakan, "Tanpa subsidi, Elon mungkin harus menutup usahanya dan pulang kampung ke Afrika Selatan."
Dalam konteks ini, Elon Musk, yang merupakan orang terkaya di dunia, dikenal sebagai salah satu donor utama untuk kampanye Trump dalam Pilpres AS 2024, dan sebelumnya sering terlihat mendukungnya secara publik.
Namun, hubungan antara keduanya mengalami ketegangan yang semakin jelas akibat RUU terbaru yang muncul. Dalam beberapa hari terakhir, Musk kembali mengeluarkan kritik terhadap situasi ini, menuduh Partai Republik telah mengabaikan komitmen untuk menjadikan AS sebagai pemimpin dalam inovasi kendaraan listrik dan energi bersih.
Selain itu, Musk juga mengusulkan pembentukan partai baru yang dia sebut "Partai Amerika" jika RUU yang dikenal sebagai "One Big Beautiful Bill" disetujui.





















:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482946/original/054584800_1769303572-bantuan_logistik_di_Cisarua_KBB.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482945/original/014554700_1769302563-KPK_geledah_kantor_koperasi_terkait_kasus_Bupati_Pati_Sudewo.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4255388/original/099094100_1670573986-20221209-Cuaca-Ekstrem-Faizal-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482941/original/040039000_1769300522-Angin_kencang_merusak_sejumlah_lapak_pedagang_di_Sukabumi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482938/original/081714600_1769299677-Hogi_dan_Arsita.webp)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4909346/original/009920900_1722820620-lulalahfah_1722515281_3425028883076168366_199618161.jpg)























