Konflik AS-Iran Guncang Pasar Kripto, Bitcoin Sentuh Level Terendah

23 Juni 2025 14:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konflik AS-Iran Guncang Pasar Kripto, Bitcoin Sentuh Level Terendah
Harga Bitcoin terkoreksi dan sempat jatuh di bawah level psikologis USD 99.000, di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik menyusul serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran.
kumparanBISNIS
Ilustrasi Bitcoin Foto: REUTERS/Dado Ruvic
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bitcoin Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Harga Bitcoin kembali terkoreksi dan sempat jatuh di bawah level psikologis USD 99.000, di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik menyusul serangan udara Amerika Serikat ke fasilitas nuklir utama Iran. Koreksi ini menandai level terendah Bitcoin sejak 9 Mei 2025 dan memicu gelombang penurunan lebih luas di pasar aset digital global.
Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua, juga mencatat penurunan signifikan hingga lebih dari 10 persen sebelum akhirnya pulih sebagian. Sementara itu, altcoin seperti Solana, XRP, dan Dogecoin mengalami penurunan. Solana turun lebih dari 7 persen, XRP turun lebih dari 8 persen, dan Dogecoin turun lebih dari 9 persen.
Menurut data dari CoinGlass, lebih dari USD 1 miliar posisi kripto terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, sebagian besar berasal dari posisi long yang terlalu berisiko. Ini menunjukkan bahwa pasar dalam kondisi rapuh ketika gejolak geopolitik muncul.
Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai bahwa pelemahan harga Bitcoin kali ini bukan semata disebabkan oleh faktor teknikal, melainkan karena sentimen risiko makro yang semakin kuat.
"Pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap berita geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian. Respons pasar terhadap serangan AS ke Iran menunjukkan bahwa Bitcoin, meski kerap dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetap dipandang sebagai aset berisiko oleh sebagian investor,โ€ jelas Antony dalam keterangan tertulis Senin (23/6).
Menurut dia, sejak kabar kemungkinan serangan ini muncul pada pekan lalu, pelaku pasar sudah mulai mengurangi eksposurnya terhadap aset kripto. Hal ini tercermin dari menurunnya arus masuk ke ETF spot Bitcoin secara signifikan menjelang akhir pekan.
Data menunjukkan bahwa arus masuk ke ETF spot Bitcoin dari Senin hingga Rabu pekan lalu mencapai lebih dari USD 1 miliar. Namun, pada Kamis tidak ada pergerakan net, dan pada Jumat hanya tercatat USD 6,4 juta. Kelesuan ini mencerminkan sikap wait and see pelaku institusi terhadap keputusan strategis pemerintahan AS.
"Fenomena ini perlu menjadi catatan penting bagi investor retail. Mereka perlu memahami bahwa volatilitas tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari investasi di kripto. Namun, koreksi tajam seperti ini tidak selalu berarti ancaman. Justru, bagi investor berpengalaman, ini bisa menjadi kesempatan untuk masuk pada valuasi yang lebih menarik,โ€ tutur Antony.
Selain itu, JPMorgan memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga USD 130 per barel jika Iran menutup jalur Selat Hormuz yang merupakan rute ekspor minyak utama. Kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi AS mendekati 5 persen kembali, yang akan mengubah arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ilustrasi grafik pasar saham kripto. Foto: Shutterstock
Kekhawatiran ini menyebabkan investor menarik dana dari aset berisiko tinggi seperti kripto dan memindahkannya ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, pasar kripto mengalami tekanan jual.
Sejak halving Bitcoin pada April 2024, pasar masih berada dalam tren siklus naik yang historisnya berlangsung 12 hingga 18 bulan setelah halving. Antony memprediksi bahwa potensi harga Bitcoin untuk naik tetap terbuka.
"Meskipun tekanan saat ini berat, fondasi fundamental Bitcoin masih sangat kuat, terutama dengan terbatasnya suplai dan semakin meningkatnya penerimaan institusi. Ini hanya bagian dari dinamika jangka pendek yang selalu hadir dalam siklus kripto," jelasnya.
Sebagai pelaku industri, INDODAX terus mendukung edukasi dan transparansi bagi para penggunanya agar mereka dapat membuat keputusan investasi yang bijak di tengah gejolak pasar.
"Kami juga terus bekerja sama dengan regulator untuk memastikan bahwa transaksi aset kripto di Indonesia tetap berlangsung dengan aman, legal, dan terawasi," ujar Antony.
Bitcoin telah beberapa kali mengalami koreksi signifikan dalam sejarahnya dan kembali menguat di fase berikutnya. Investor jangka panjang yang memahami nilai intrinsik dari teknologi blockchain dan kelangkaan suplai Bitcoin diprediksi akan tetap bertahan dalam kondisi seperti saat ini.
Dengan mengamati dinamika geopolitik yang terjadi dan potensi suku bunga AS dalam beberapa bulan ke depan, para investor disarankan untuk tetap waspada namun tidak panik.
Meskipun Bitcoin sempat menembus di bawah USD 99.000, potensi pemulihannya tetap terbuka. Saat ini adalah momen yang menuntut kewaspadaan, strategi, dan pemahaman jangka panjang terhadap aset kripto.
Trending Now