Hoaks yang Memperbesar Kemarahan Publik hingga Berujung Rusuh dan Penjarahan
2 September 2025 15:35 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Hoaks yang Memperbesar Kemarahan Publik hingga Berujung Rusuh dan Penjarahan
Video yang dipelintir dan narasi palsu semakin memperkeruh situasi, membuat publik marah bukan hanya pada fakta, tapi juga pada kebohongan yang dikemas seolah nyata. kumparanNEWS


Aksi demo berlangsung sejak Senin (25/8) diwarnai aksi rusuh hingga berujung penjarahan beberapa rumah anggota DPR dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Aksi rusuh dan penjarahan disebut-sebut dilakukan oleh massa lain yang tidak tergabung dengan massa demonstrasi. Massa perusuh disebut sengaja datang untuk membuat kerusuhan.
Tersebarnya banyak konten hoaks di berbagai platform media sosial juga ditengarai menjadi pembenaran bagi massa perusuh untuk menjalankan aksinya. Untuk itu, kumparan mencoba menyoroti berbagai konten hoaks yang difabrikasi pihak tidak bertanggung jawab dalam memperkeruh suasana. Konten-konten hoaks tersebut beredar sejak 25 hingga 30 Agustus 2025.
Hal ini kami lakukan agar masyarakat Indonesia ke depannya dapat lebih bijak dalam menyikapi informasi, tetap tenang, dan selektif dalam menerima setiap konten sehingga kita bisa bersama-sama #JagaIndonesiaLewatFakta.
Video anggota DPR berjoget di sela Sidang Tahunan MPR pada Jumat (15/8) lalu sempat memicu kemarahan masyarakat. Keceriaan para legislator dianggap tidak peka terhadap penderitaan rakyat yang katanya mereka wakili.
Situasi semakin memanas ketika isu tunjangan DPR naik mencuat. Pernyataan Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir tentang kenaikan tunjangan bensin, beras, dan perumahan pada Selasa (19/8) lalu yang turut memicu tanggapan keras dari publik. Banyak yang menilai tunjangan terlalu besar dan tidak sebanding dengan transparansi kinerja para anggota dewan.
Sejumlah legislator justru merespons sinis kritik publik. Nafa Urbach, misalnya, menyinggung macetnya perjalanan dari Bintaro ke Senayan pada Rabu (20/8) dan menganggap kenaikan tunjangan anggota DPR adalah hal yang โnormalโ. Ia mengupload video singkatnya itu di akun instagram pribadi, kini akun IG dari Nafa Urbach sedang dihapus sementara olehnya.
Kemudian, penyataan kontroversial Ahmad Sahroni saat diwawancarai pada Jumat (22/8) yang menyebut masyarakat โtololโ, semakin memperparah kemarahan publik. Ia menilai masyarakat yang menyerukan bubarkan DPR adalah masyarakat โtololโ. Video tersebut dengan cepat menyebar di media sosial.
Selang beberapa hari kemudian, aplikasi TikTok dipenuhi dengan video-video yang memperlihatkan Eko Patrio hingga Uya Kuya berjoget. Video tersebut di-framing, seakan-akan mereka terlihat bahagia dan menyambut baik kebijakan tunjangan DPR yang naik.
Padahal, tidak semua video yang beredar benar. Beberapa video Eko dan Uya joget sejatinya adalah video lama tanpa teks. Video yang diupload di akun TikTok @anggara.putra24_, misalnya, menunjukkan Uya Kuya joget menyambut dengan gembira tunjangan DPR.
Setelah ditelusuri, video asli Uya Kuya joget diupload oleh akun pribadi TikTok miliknya @king.uyakuya pada Minggu, 8 Oktober 2023 lalu.
Tulisan soal gaji kemudian ditambahkan sebagai konteks dan akun-akun TikTok mengupload kembali video joget yang sudah lama terjadi. Begitu pula video Uya bersama istrinya dengan lirik โgue bodo amatโ yang dituding berkaitan dengan isu tunjangan DPR.
Nyatanya, video joget tersebut diambil ketika Uya berseteru dengan Denise Chariesta yang terjadi sekitar tahun 2021. Hal ini terlihat dari video joget Uya dengan istrinya yang berlatar karangan bunga bertuliskan,
โTurut Berduka Cita: Atas Matinya Nyali Denise Charista yang Nggak Berani Keluar Rumahโ
Hoaks-hoaks ini telanjur menyebar cepat dan semakin memperkeruh persepsi negatif publik. Amarah masyarakat yang sudah tersulut akibat jogetan dan statement para anggota dewan, ditambah beberapa konten hoaks yang beredar langsung meledak dalam demonstrasi besar pada 28 Agustus hingga 31 Agustus.
Gelombang massa berujung pada penjarahan rumah sejumlah anggota DPR: Ahmad Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya, dan Nafa Urbach. Alamat mereka tersebar di media sosial, sehingga rumah kosong sekalipun tak luput dari serangan.
Namun, kami cukup kesulitan untuk menemukan akun media sosial pertama yang menyebarkan atau mengupload video-video hoaks ini. Sebab, sebagian dari mereka sudah menghapus kontennnya. Menurut Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO), Septiaji Eko Nugroho, konten tersebut bisa saja dihapus, lantaran sudah ketahuan sebagai video palsu.
โBiasanya kalau sudah kena debunk, ketahuan hoaksnya dan kena label. Barulah mereka menghapusnya,โ kata Septiaji kepada kumparan, Senin (1/9).
Ia juga menilai hoaks yang beredar di media sosial ibarat bensin yang menyulut kemarahan publik.
โApinya sudah ada, tapi karena ditambahin, diguyur dengan bensin berupa hoaks itu ya, jadi terbakarnya jadi lebih luas. Ya, contohnya ini kan,โ jelas Septiaji.
Ia mengkhawatirkan penjarahan seperti yang dialami empat legislator bisa meluas dan dinormalisasi. Menurutnya, penyebaran hoaks di masyarakat bersifat campuran, ada yang organik, ada pula yang terorganisir.
โSaya bilang ini campur. Kalau dibilang terorganisir, ya faktanya ada banyak hoaks yang saya anggap ini sangat organik ya, sangat spontan, karena bisa jadi ketidakpahaman masyarakat. Tapi kalau dibilang tidak ada yang mengorganisir, saya rasa ada sebagian hoaks itu yang diorganisir gitu ya,โ jelasnya.
Berdasarkan pantauan kumparan, hoaks juga tetap beredar pasca-kerusuhan, seperti kabar soal barang sensitif di rumah Sahroni, video editan AI yang menggambarkan dirinya mengemis, hingga gosip bahwa Eko dan Uya masuk rumah sakit karena stres.
Video yang dipelintir dan narasi palsu semakin memperkeruh situasi, membuat publik marah bukan hanya pada fakta, tapi juga pada kebohongan yang dikemas seolah nyata. Berikut adalah beberapa video hoaks yang berhasil dikumpulkan tim kumparan:
--------
PESAN REDAKSI:
Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.
