Seni Didong Gayo, 'pelipur lara' penyintas banjir-longsor di Aceh Tengah

Sumber gambar, Iwan Bahagia
- Penulis, Iwan Bahagia
- Peranan, Wartawan di Aceh Tengah
- Waktu membaca: 11 menit
Sebagian penyintas banjir-longsor di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, berusaha melipur lara mereka dengan menggeluti kesenian tradisional didong yang memadukan gerak, suara, dan tepukan.
Saat banjir dan longsor meluluhlantakkan Dataran Tinggi Gayo, Aceh, pada akhir November 2025 lalu, para penyintas dan warga yang terdampak merasakan tekanan luar biasa.
Selain kehilangan nyawa sanak-saudaranya, mereka tak lagi punya rumah, tanah, kebun, hingga sawah.
Dihadapkan nestapa, para penyintas sekuat tenaga untuk dapat bertahan hidup.
Mereka juga berusaha menghibur diri ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi.
Sebagian warga di wilayah itu kemudian memilih melipur lara dengan menggelar kesenian Didong Gayo atau Didong Tepok—sebuah warisan turun-temurun dari leluhur mereka.
BBC News Indonesia menemui sejumlah seniman Didong di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Inilah kisah mereka.
'Didong itu pelampiasan hati yang luka'
Desa Kalasegi, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah, porak-poranda dihantam banjir-longsor, akhir November 2026 lalu.
Setidaknya ada 34 unit rumah milik warga rusak berat dan tidak dapat lagi dihuni.
Desa itu berada tidak jauh dari Danau Laut Tawar—danau kebanggaan masyarakat di Tanah Gayo.
Tidak lama setelah banjir-longsor, jalan yang menghubungkan desa itu dengan ibu kota Aceh Tengah, Takengon, tertutup material longsor.
Baca juga:
Sisa-sisa material itu—kebanyakan bebatuan berukuran besar— tampak di kanan dan kiri jalan. Kini jalan itu sudah bisa dilalui.
Di ruas jalan itulah, ada sepetak tanah kosong yang didirikan empat tenda untuk ditempati warga Desa Kalasegi yang kehilangan rumah.
Di salah-satu tenda itulah, Aji Muda Aman Santi tinggal sementara. Dia dikenal sebagai seniman didong.
Saat ditemui, Aji Muda berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak mau larut dalam duka.
Rumahnya hanyut akibat dalam petaka banjir-longsor itu.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Aji Muda ingat betul, 26 November 2025 sore, usai salat magrib, dia bersama keluarga dan masyarakat Kalasegi menyelamatkan diri.
Mereka meninggalkan rumah masing-masing setelah bah dan material mulai datang.
Saat itu hujan tidak berhenti sejak sehari sebelumnya.
Kepanikan Aji Muda semakin menjadi, ketika air mulai datang dari lereng gunung, ada pula kayu dan bebatuan besar yang mulai menggelinding, bumi seolah bergetar, bak pertanda kiamat.
"Jadi bencana yang sangat dasyat itu jam 02.00 dini hari, bumi ini seperti bergetar, bergetar, betul-betul bergetar," kenangnya.
Baca juga:
Petaka itu membuatnya kehilangan satu unit mobil, dua sepeda motor, serta SK PNS sang istri, bersama ijazah keluarganya.
"Semua dibawa arus, jadi tidak ada lagi yang tersisa," ujarnya.
Sekitar lima bulan kemudian, sisa-sisa reruntuhan rumahnya, yang terletak di Kampung Kalasegi, masih tertimbun lumpur yang sudah mengering sedalam tiga hingga lima meter.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sore itu, Aji Muda baru saja mementaskan klub didong anak-anak.
Mereka rencananya akan tampil di hadapan jurnalis televisi.
Anak-anak itu dilatih bedidong—istilah untuk penampilan didong—tidak lama setelah kampungnya luluh lantak.
Saat itu desa mereka masih terisolir dan warganya kesulitan mendapatkan bahan makanan pokok.
Baca juga:
Bagi Aji Muda, didong adalah pelipur lara atau terapi di tengah kebingungan warga Kalasegi selepas bencana.
Apalagi kala itu listrik dan akses internet padam. Segala aktivitas keseharian tidak lagi bisa dilakukan secara normal.
"Karena didong ini adalah menjadi pelampiasan, dari hati yang luka, hati yang sangat tertekan," kata Aji Muda kepada wartawan Iwan Bahagia, pertengahan Februari lalu.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Kondisi anak-anak saat itu sangat memprihatinkan. Mereka harus berhenti sekolah, dan sebagian mereka menyaksikan langsung kengerian bencana.
Melihat keadaan itu, Aji Muda—didukung sejumlah warga—berniat menciptakan syair didong tentang peristiwa bencana.
Aji Muda dan warga lalu melatih ceh kucak (ceh kecil), untuk melantunkan syair didong tersebut.
Sementara penepuk [gerakan tangan memukul bantal kecil atau tepuk tangan], dilatih oleh orang berbeda.
Di Desa Merodot, yang bersebelahan dengan Desa Kalasegi, Aji Muda menciptakan syair didong.
Syair itulah lantas dilantunkan para pedidong anak-anak.
Aji Muda kemudian melantunkan salah-satu liriknya:
Bintang kampungku bintang, sudah terkenal di seluruh dunia, Kalasegi kampungku sayang, sudah habis [berdatangan gelondongan kayu] ke laut ijo [danau]...

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Syair didong itu diciptakan Aji Muda sehari selepas bencana tersebut.
Aji Muda kehilangan rumah dan isinya akibat banjir dan longsor. Dia dan keluarganya juga sempat terseret bah.
Warga desa lalu meminta supaya dia menciptakan syair bertema petaka itu.
"Itu pun berat sekali hati untuk menciptakan lagu ini," kenangnya.
Didong bertajuk bencana itu pun kemudian ditampilkan oleh anak-anak di hadapan warga dan penyintas. Dia menyebut anak-anak itu tampil sepenuh hati.
Aji Muda meyakini, aktivitas kesenian itu dapat menjadi semacam terapi bagi penyintas dan warga yang terdampak.
"Jadi karena begitu dalam hati ini, maka diciptakan didong itu. Kemudian anak-anak dan orangtua pun tidak lagi begitu merasa trauma," katanya.
Baca juga:
- Bendera putih di Aceh, 'Kondisi Aceh begitu buruk, kami tidak baik-baik saja' – Apa respons pemerintah pusat?
- Polemik bendera bulan bintang, korban bencana di Aceh minta fokus penyaluran bantuan – 'Mohon menahan diri, kami sudah lelah'
- Bayang-bayang referendum dan konflik bersenjata di balik penanganan banjir di Aceh
Dalam perkembangannya, klub didong anak-anak yang dipimpin Aji Muda tampil di hadapan pejabat pemerintah, tim relawan atau tamu yang datang ke desa tersebut.
Acapkali anak-anak itu mendapat saweran dari penonton. Situasi ini menjadi kebahagiaan sendiri bagi Aji Muda.
"Jadi dengan adanya didong ini, banyak menyentuh hati donatur," ungkapnya.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Tak semata saweran. Aji Muda mendidik anak-anak supaya taat menjalankan kewajiban agama, yaitu salat.
Ibadah salat itu disebutnya sebagai syarat untuk terlibat sebagai pedidong di klub didong yang dibentuknya.
Jika ada anak yang tidak memenuhi syarat itu, maka tidak boleh menjadi pedidong, jelasnya.
Gabungan seni tepuk, suara dan gerak
Didong adalah kesenian tradisional masyarakat Gayo, Aceh—secara geografis meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.
Kesenian didong, yang biasanya dimainkan oleh sejumlah pria, menggabungkan seni tepuk, suara (vokal) dan gerak.
Pelantun syair dalam kesenian didong disebut ceh. Dan di setiap kelompok didong ada ceh satu, ceh dua dan ceh tiga.
Adapun penepuk terdiri dari penepok tingkah masing-masing dua orang, dan penepok bantal yang juga terdiri dari dua orang.
Para penepuk bantal dan tangan inilah yang mengiringi lantunan syair dari para ceh didong.
Didong biasanya dimainkan 15 orang hingga 25 orang—tergantung kebutuhan. Mereka inilah secara keseluruhan disebut klub didong.
Awalnya, syair didong sebagai media penyebar agama islam, kemudian berkembang menjadi media penyebaran informasi, kisah, dan sebagai media silaturahmi.
'Air mata mengalir ke pipi, melihat rumah sudah remuk redam'
Klub pedidong cilik sedang duduk dan membentuk setengah lingkaran, mereka akan menampilkan didong sebagai pelipur lara.
Dimulai dengan syair yang dilantunkan sang ceh kucak, Khairullah, yang mengenalkan didong sebagai kesenian dan budaya orang Gayo, sesi ini milik ceh kucak, tanpa tepukan.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Klub Didong Cilik Arbika, itulah nama klub tersebut, singkatan Ari (dari) Bintang Kalasegi, yang juga nama klub didong senior yang ada di desa tersebut.
Selesai syair yang terdiri dari beberapa bait pembuka, baru lah tepukan dari anak-anak lain bergema, mengantar menuju syair selanjutnya.
Assalamualaikum ayah, kami berseni…
Arbika [nama klub didong mereka] cilik ini, mendendangkan lagu Gayo.
Ini adalah seni Gayo, ini adalah adat Gayo...
Lirik dari syair yang dinyanyikan Khairullah sebagai didong pembuka dalam bahasa Gayo, yang bermakna perkenalan terhadap tradisi didong.
Pada bagian berikutnya, Khairullah dibantu tepukan anak-anak yang lain, menceritakan bagaimana banjir dan longsor terjadi pada akhir November lalu, termasuk bagaimana kayu-kayu beserta lumpur hanyut.
Nama Desa mereka adalah Kalasegi, namun mereka lebih bangga menyebut Bintang, yang merupakan nama kecamatan di wilayah itu.
Bintang… Kampungku, sangat sayang…
Sudah seminggu hujan turun…
Bumi tidak sanggup lagi menahan…
Karena dunia sudah tidak lagi bertahan…
Batang kayu sudah sebagai tebangan…
Longsor datang (di) setiap tikungan…
Kayu di dalam hutan sudah turun hanyut bertumpuk…
Aduh Ayah, Ibu, ke mana aku bertanya…
Jam Sembilan, air sudah sampai akhirnya berlimpah hanyut bertumpukan ke bawah…
Malam hari di rumah mata langsung menyaksikan rumah dihanyutkan ke bagian kuala…
Ke (teluk danau) Ujung Pasir kami berlarian, Pak Taqwa yang menampung kami
Oh Ibu, ayah, kita ucapkan terima kasih…

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Pada bagian refrain, Khairullah mengisahkan kembali tentang kawasan Bintang dan Desa Kalasegi yang luluh lantak akibat banjir-longsor.
Bintang kampungku Bintang sudah terkenal ke seluruh dunia…
Kalasegi kampungku sayang, habis tumbang kayu ke laut hijau [Danau Lut Tawar]…
Tanggal 26, bupati datang berkunjung…
Ke Kalasegi datang meninjau…
Air matanya mengalir ke pipi,
Melihat rumah sudah remuk redam
Masyarakat banyak sudah mengungsi
Bantuan dibagi, lalu diterima…
Aduh ayah, ibu, kita ucapkan terima kasih…
Yang berlarian menyelamatkan diri…
Air dingin mengalir sudah [sangat] menyeramkan…
Sudah habis baju yang cantik…
Sudah habis isi di dalam lemari…
Apa yang dibawa…
Apa yang dibawa tidak ada lagi sempat dipikirkan…
Ayah, ibu, begitukah dia [datang] bala
Lirik kembali ke reffrain, dengan menceritakan peristiwa di Kampung Kalasegi, Kecamatan bintang.
'Sejak kecil dilatih nenek bernyanyi'
Usai berdidong, Khairullah kemudian berlarian, bermain bersama rekan-rekannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Bagi Khairullah, didong adalah pelipur lara, karena kondisi bencana mereka harus tetap berkumpul bermain bersama.
"Saya senang berdidong, karena bisa berkumpul dan ada kegiatan," kata Khairullah, pertengahan Februari lalu.
Dia mengaku sudah membaca dan menghapal lirik sejak hari kedua bencana, yakni 27 November 2025.
"Hari kedua bencana, kami jumpain Pak Aji, kami minta tolong kepada pak haji untuk ajarkan kami bedidong," jelas Khairullah.
Dia hanya mengetahui didong itu bercerita tentang bencana.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Didong bagi siswa kelas 5 SD Negeri 7 Bintang itu, bukan sesuatu yang asing, sebab dari kecil, dia sempat diajarkan oleh neneknya untuk mengolah vokal.
"Karena dari kecil, saya sudah dilatih nenek saya untuk bernyanyi," ucapnya.
Bagi anak-anak penyintas bencana seperti Khairullah, mendapatkan uang setelah tampil merupakan kesenangan tersendiri.
"Saya senang karena mendapatkan bantuan dan apa gitu. Sudah 30 kali saya tampil," katanya.
Dia merasa syair didong—yang diciptakan Aji Muda—sangat mengena di hati.
"Saya suka lagunya, karena sangat cantik dibuat Pak Aji," ungkap Khairullah.
Proses latihan tidaklah muda, dia bersama rekannya memakan waktu dua minggu untuk menyatukan vokal, tepok dan gerakan.
Cerita seniman didong hadapi balak
Kasman Minosra Aman Miko, 58 Tahun, tidak menduga bencana datang tiba-tiba.
Saat itu dia berada di Kampung Linge, Kabupaten Aceh Tengah, yang berjarak sekitar 2,5 jam dari kota Takengon.
Bencana banjir dan longsor tahun lalu, sangat membekas dalam ingatan Kasman.
Tanggal 24 November 2025, dia berangkat ke Desa Linge, Kabupaten Aceh Tengah, sebagai juri festival didong yang diselenggarakan sebuah yayasan yang bergerak di bidang lingkungan.
Bersama salah seorang ceh senior bernama M Din, serta yang membantu mereka, M Yusuf Aman Asma, sempat menginap keesokan harinya.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Namun petaka mengharuskan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan berjalan 25-27 November 2025 itu dihentikan.
"Memang bencana ini datang tidak kami duga, mungkin kebanyakan orang tidak menduga bencana ini akan datang," kata Kasman, saat ditemui di rumahnya, pertengahan Februari lalu.
Baca juga:
Hari kedua itu, mereka mendapat informasi, banjir dan longsor terjadi di kawasan Kemukiman Wihni Dusun Jamat, yang terdiri dari lima desa, termasuk Desa Linge.
Tak terkecuali Jembatan Kala Ili, sebagai penghubung ke lima desa itu, putus total.
"Sehingga sampai saat ini mobil kami tinggal di sana. Kami jalan kaki bersama rekan-rekan, khususnya Bang M Din, Bang Asma, kami bertiga kadang-kadang tidur di badan jalan, dan semalam tidur di rumah penderes getah pinus. Sampai ke Bintang kami berjalan tiga hari dua malam," kenang Kasman.
Petaka yang memilukan itu membuatnya mengalami trauma, belum lagi kala itu harus memikirkan nasib keluarganya di Bintang, karena akses komunikasi sama sekali tidak bisa tersambung.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Kasman sudah melanglang buana dalam menggeluti didong Gayo, bahkan menjadi ceh didong sudah dimulai saat dibangku sekolah dasar, dan masih dilakukan hingga saat ini.
Dia pernah menjadi ceh cilik Pesisir Laut (Desa Nosar), Ceh Bujang Juere ( Desa Mengaya), Ceh KKA Tahun 1987, saat itu bekerja di Kertas Kraft Aceh selama 15 tahun.
Kemudian dia aktif di Klub Teruna Jaya (Desa Toweren), Lut Tawar Jaya (Desa Gegarang) sampai saat ini.
Sebelum bencana, Kasman bersama rekannya sesama ceh pernah membahas untuk membangkitkan kembali kegiatan bedidong di Aceh Tengah.
"Sebelum bencana, kami beberapa ceh didong ingin sekali mengembangkan didong bersama pemerintah dan masyarakat. Jadi bibit-bibit di kampung kampung, rencananya kami bangkitkan," ucap Kasman.
Upaya itu dilakukan dengan kerjasama dukungan dari pemerintahan desa hingga kabupaten.
Berupaya bangkit setelah banjir-longsor
Kasman lalu berkisah, bahwa dirinya sempat khawatir terhadap masa depan tradisi didong, setelah banjir-longsor meluluhlantakkan sebagian wilayah Tanah Gayo.
Musababnya, lanjut Kasman, para penyintas dan warga terdampak terkuras tenaga dan pikirannya akibat balak tersebut.
Pada momen-momen itulah, dia merasa masa depan tradisi didong bakal terdampak.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
"Kami atas nama seniman, maunya berkumpul di satu tempat, siapa nanti yang fasilitasi. Apabila ada pihak-pihak yang merasa peduli tentang didong, kumpulkan kami. Bercerita panjang-pendek. Setelah berkumpul, tentu ada masukan, agar didong tidak terhenti," kata Kasman, berharap.
Ketika muncul kesadaran kolektif sesama seniman didong, Kasman mengaku bahwa kekhawatiran awalnya itu tak sepenuhnya menggambarkan kenyataan.
"Kalau kita bisa menggerakkan secara bersama, maka kita akan bisa meminimalisir ancaman itu," ujarnya
Dia berharap ada pihak yang mempedulikan tradisi didong Gayo sehingga kondisinya jauh lebih baik pasca balak tersebut.
"Kalau ada yang punya bakat sedikit bisa didorong, agar didong tidak berhenti dan tidak hilang," tandas Kasman.
































