Pegiat oposisi Iran ditahan

Foto AP ini merupakan unjuk rasa tanggal 27 Desember
Keterangan gambar, Jumlah korban dalam unjuk rasa ini merupakan yang tertinggi sejak Juni

Sejumlah tokoh oposisi ditahan di Iran, satu hari setelah unjuk rasa yang menyebabkan paling tidak delapan orang tewas.

Mereka yang ditahan termasuk pembantu pemimpin oposisi Mir Hossein Mousavi.

Keponakannya Seyed Ali Mousavi termasuk korban yang tewas dalam kekerasan hari Minggu, kerusuhan terparah sejak pemilihan presiden yang dipersengketakan.

Keluarga Mousavi mengatakan mereka tidak diizinkan untuk memakamkan Seyed Ali, karena jenasahnya telah diambil dari rumah sakit.

Seperti dikutip oleh situs kelompok reformis Parlemannews Saudara kandung Seyed Ali, Seyed Reza Mousavi mengatakan: "Tidak ada yang mengaku bertanggung jawab memindahkan jenazahnya...Kami tidak dapat memakamkan dia sebelum kami temukan jenazahnya."

Sumber-sumber oposisi lain mengatakan jenazahnya dibawa oleh agen pemerintah untuk mencegah upacara pemakaman menjadi pemicu protes lebih lanjut.

Media asing dibatasi di Iran dan laporan-laporan yang masuk belum dapat diverifikasi.

Tindakan memalukan

Politisi oposisi Ebrahim Yazdi termasuk tokoh yang ditahan hari Senin. Ia pernah menjadi mentri luar negeri setelah revolusi tahun 1979 dan sekarang menjadi ketua Gerakan Kebebasan di Iran.

Ebrahim Yazdi
Keterangan gambar, Ebrahim Yazdi juga ditangkap dalam unjuk rasa Juni lalu

Keponakannya Lily Tavasoli juga ditangkap.

Putra Yazdi, Khalil yang tinggal di Amerika, mengatakan kepada BBC, ia menduga pemerintah Iran ingin menekan semua kelompok oposisi.

"Tindakan ini memalukan dan tidak bertanggung jawab," katanya.

"Setiap gerakan oposisi akan mereka redam," tambahnya.

Situs Parlemannews melaporkan tiga pembantu Mir Hossein Mousavi juga ditahan.

Aktivis oposisi lain yang dijaring termasuk dua pembantu mantan Presiden Mohammad Khatami.

Mousavi Tebrizi, seorang ulama senior dari kota Qom yang dekat dengan Mousavi, juga dilaporkan ditahan.

Unjuk rasa yang bermula setelah terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad Juni lalu, merupakan menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah sejak Revolusi Islam tahun 1979.