Oposisi Iran peringatkan pemerintah

Pemimpin oposisi Iran Mir Hossein Mousavi mengatakan Iran dalam kondisi krisis yang serius dan menegaskan tidak takut mati demi reformasi.
Melalui pernyataan yang dikeluarkan di situs internetnya, Mousavi mengatakan sikap pemerintah yang tidak mau mengakui adanya krisis tidak akan memulihkan keadaan dan mereka harus mengakui hak rakyat untuk berunjuk rasa secara damai.
"Saya katakan secara terbuka bahwa sampai ada pengakuan terhadap adanya krisis serius di negara ini, maka tidak mungkin menyelesaikan berbagai isu dan masalah," kata Mousavi di situs internetnya, Kaleme.org.
Dia menambahkan pemerintah, parlemen, dan sistem hukum harus menerima "tanggungjawab langsung" atas keadaan ini.
Mereka, kata Mousavi, harus membuat "undang-undang transparan" untuk menyelenggarakan pemilihan yang bisa dipercaya, membebaskan tawanan politik, mengakui kebebasan pers, dan hak warga untuk mengadakan unjuk rasa.
Inilah merupakan pernyataan pertama pemimpin oposisi Iran sejak kematian keponakan laki-lakinya dan juga kematian para pengunjuk rasa lain antipemerintah bulan lalu.
Tuntutan rakyat
Mir Houssein Mousavi mengatakan penangkapan atau pembunuhan terhadap dirinya atau para pemimpin oposisi lain "tidak akan menenangkan keadaan".
Tanpa menyebut keponakan laki-lakinya, dia mengatakan dirinya tidak takut mati.
"Saya tidak takut mati untuk menyuarakan tuntutan rakyat," tegas Mousavi.
Keponakan Mousavi, Seyed Ali Mousavi, merupakan salah satu dari sedikitnya delapan orang yang tewas dalam aksi penumpasan terhadap unjuk rasa antipemerintah tanggal 27 Desember, yang bertepatan dengan perayaan Asyura bagi warga Syiah.
Ini adalah insiden terburuk sejak serangkaian unjuk rasa besar digelar setelah Iran melaksanakan pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad Juni lalu.
Sejumlah tokoh oposisi senior ditangkap dan pemerintah menuding para pengacau berada di balik kekerasan.
Puluhan ribu warga Iran menggelar unjuk rasa di berbagai kota Rabu lalu untuk menunjukkan dukungan terhadap pemerintah.
Dalam aksi di berbagai ruas jalan mereka meneriakkan yel-yel "matilah para penentang".
Kegiatan itu dilaporkan diselenggarakan oleh pemerintah untuk menandingi demonstrasi pihak oposisi.





























