Prancis tangkap bajak laut

peta ethiopia
Keterangan gambar, Bajak laut terus memperluas operasinya

Angkatan Laut Prancis menangkap 35 tersangka pelaku pembajakan di lepas pantai Somalia, penangkapan itu dipuji sebagai salah satu misi paling berhasil di kawasan tersebut sejak Uni Eropa memulainya tahun 2008 lalu.

Pejabat Prancis menyebutkan ada empat kapal besar dan enam kapal kecil yang berhasil ditangkap oleh Angkatan Laut Prancis sejak memereka memulai operasi tersebut hari Jumat (5/3) pekan lalu.

Departemen Pertahanannegara itu juga mengatakan Pasukan Uni Eropa harus menggunakan helikopter dan menembakan sejumlah tembakan peringatan untuk menangkap para pembajak tersebut.

Uni Eropa meluncurkan misi anti bajak laut pada December 2008 lalu, namun para pembajak sejak itu memperluas lokasi operasi mereka. Uni Eropa sendiri memfokuskan operasi di sekitar teluk Aden, yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Kawasan ini telah dikacaukan oleh sejumlah bajak laut.

Para penyerang bergeser ratusan mil lebih jauh lagi ke arah selatan mendekati Kepulauan Seychelles yang sejauhnya setara dengan jarak ke Madagaskar.

Kementerian Pertahanan Prancis mengatakan kapal frigat Nivose mendapat dukungan dari sejumlah kapal kecil milik Italia dan pesawat Spanyol dalam operasi yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

Namun mereka tidak merinci dimana tepatnya operasi tersbut berlangsung, mereka hanya mengatakan setidaknya ada 22 pembajak yang ditangkap pada Jumat lalu kemudian pada hari Sabtu mereka berhasil menangkap dua orang dan sebelas orang pada hari Minggu.

Masalah Hukum

Masih belum jelas juga apa yang akan dilakukan oleh anggkatan laut Perancis terhadap para tersangka ini.

Lebih dari 100 orang Somalia yang diduga terlibat dalam aksi bajak laut telah dikirim ke Kenya namun hanya beberapa dari mereka yang dinyatakan bersalah dan kebanyakan dari mereka berada dalam kondisi memprihatinkan saat menunggu persidangan di negara yang system hukumnya terbebani ini.

Bantuan telah diberikan dengan cara mengadili mereka di Prancis, Belanda dan Amerika. Namun wilayah hukum para tersangka yang berada di lautan luas membuat persidangan menjadi tidak jelas sehingga memang diubutuhkan sebuah peradilan internasional

Kondisi tanpa hukum di Somalia membuat para pelaku pembajakan ini tidak tersentuh hukum - dan banyak pimpinan pembajak tersebut juga dilaporkan telah mengumpulkan kekayaan mereka di sana dengan cara menarik tebusan dari banyak perusahaan jasa pengiriman.

Kehancuran akibat perang di Somalia telah membuat pemerintah pusat negara itu tidak berfungsi sejak tahun 1991.