Amerika akan profilkan pengunjung

Amerika Serikat hari Jumat (02/04) akan mengumumkan langkah untuk membuat profil penumpang pesawat tebang ke negara itu untuk menentukan penumpang yang harus menjalani pemeriksaan lebih teliti.

Media melaporkan bahwa langkah itu akan mengganti peraturan melewati alat pemindai rinci bagi seluruh penumpang asal 14 negara yang diterapkan setelah rencana serangan satu pesawat yang gagal pada bulan Desember lalu.

Strategi pemeriksaan rinci baru ini merupakan hasil dari pengkajian yang diminta oleh Presiden Barack Obama.

"Langkah ini lebih mengarah pada individu yang kami khawatirkan dan memang sudah masuk daftar intelijen kami," ujar seorang pejabat pemerintah yang dikutip harian New York Times.

"Ini bukan membuat profil dalam arti tradisional. Profil ini dibuat berdasarkan laporan intelijen," tambah pejabat tersebut.

'Daftar larangan terbang'

Peraturan baru ini juga berlaku bagi warga Amerika Serikat, disamping warga negara lain yang berkunjung ke negara itu.

Pemerintah Amerika Serikat saat ini memiliki enam ribu nama dalam "daftar larangan terbang" yang dicurigai sebagai teroris, dan mereka dilarang terbang menuju atau di dalam wilayah Amerika Serikat.

Harian Wall Street Journal melaporkan daftar ini akan dilengkapi dengan informasi silang yang bisa membuat para penumpang diperiksa secara rinci, meski nama mereka tidak masuk daftar merah.

Pemeriksaan rinci itu akan mempertimbangkan informasi lain seperti asal negara, usia, negara yang baru dikunjungi dan nama.

Meski Amerika Serikat tidak memiliki otoritas untuk memeriksa rinci penumpang di bandara negara lain, pemerintah Amerika Serikat bisa memberi sanksi kepada maskapai penerbangan yang tidak mau mengikuti peraturan keamanan penerbangan internasional yang dikeluarkan negara itu.

Negara beresiko

Seorang warga Nigeria berusia 23 tahun -Umar Farouk Abdulmutallab- dikenai dakwaan mencoba menghancurkan satu pesawat saat dia diduga berusaha meledakkan satu bom di dalam pesawat penumpang yang tiba di Amerika tanggal 26 Desember 2009.

Abdulmutallab berhasil dilumpuhkan oleh para penumpang dan awak pesawat sebelum kapal milik Northwest Airlines mendarat dari Detroit setelah terbang dari Amsterdam.

Akibat insiden ini peraturan baru pun diterapkan, yang mengharuskan semua penumpang dari atau melewati Afghanistan, Aljazair, Kuba, Iran, Irak, Lebanon, Libia, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman, melewati alat pemindai rinci di bandar udara Amerika Serikat.