Obama ingatkan soal terorisme nuklir

Presiden Barack Obama mengatakan ancaman terbesar bagi keamanan Amerika Serikat adalah kemungkinan organisasi teroris menguasai senjata nuklir.
Saat berbicara menjelang pertemuan puncak nuklir di Washington, Obama mengatakan pemimpin dari 20 negara semestinya berkonsentrasi untuk mengamankan bahan nuklir.
Dia memperingatkan kelompok-kelompok seperti al-Qaida tidak akan segan-segan untuk menggunakan peralatan nuklir.
Korea Utara dan Iran, dua negara yang memiliki ambisi nuklir yang dipersengketakan, tidak diundang ke pertemuan puncak di Washington.
Kedua negara dipandang AS sebagai pelanggar perjanjian non-proliferasi nuklir.
Suriah juga tidak dicantumkan dalam daftar undangan, sebab Amerika yakin Damaskus juga mempunyai cita-cita nuklir, lapor kantor berita Associated Press.
Namun, para pemimpin negara kekuatan nuklir, termasuk India, Cina dan Pakistan termasuk yang datang ke Washington untuk menghadari pertemuan terbesar para pemimpin dunia dalam beberapa dekade, kata wartawan BBC Mark Mardell.
Selagi isu seputar langkah yang akan diambil terhadap ambisi nuklir Iran tidak masuk dalam agenda, masalah tersebut akan menjadi topik dalam banyak pembicaraan, kata wartawan kami.
'Contoh Afrika Selatan'
Para pemimpin atau wakil dari 47 negara akan hadir dalam pertemuan puncak tersebut.
"Ancaman terbesar bagi keamanan Amerika, baik dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang, adalah kemungkinan organisasi teroris memperoleh senjata nuklir," kata Obama.
"Ini sesuatu yang mungkin mengubah tata keamanan di negara ini dan di seluruh dunia dalam beberapa tahun ke depan," katanya.
"Kalau ada ledakan di New York City, atau London, atau Johannesburg, dampaknya akan menghancurkan dari sudut pandang ekonomi, politik dan keamanan."
Obama memuji Afrika Selatan karena menjadi negara pertama yang meninggalkan program senjata nuklir.
Menurut Obama, Afrika Selatan telah mendapatkan posisi khusus sebagai "pemimpin moral" karena secara sukarela menanggalkan program nuklirnya pada tahun 1990-an.
Obama berterimakasih kepada Presiden Afsel Jacob Zuma atas kepeloporan yang diperlihatkan pemerintahnya dalam urusan non-proliferasi.





























