AS-Iran saling tuding soal nuklir

Menteri luar negeri Amerika Serikat dan presiden Iran saling tuding di konferensi PBB mengenai non-proliferasi nuklir di New York.
Menlu AS Hillary Clinton kembali mengecam program nuklir Iran dalam pertemuan yang bertujuan meninjau Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) tersebut.
Clinton mengatakan Iran merupakan satu-satunya negara di forum tersebut yang melanggar kewajibannya kepada PBB, dan Iran harus dimintai pertanggungjawaban.
Sebelumnya, Presiden Iran Mahmoud Amadinejad menuding negara-negara nuklir mengancam negara-negara yang ingin mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Pernyataan Ahmadinejad ini mendorong utusan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis meninggalkan ruang pertemuan atau walk out.
Departemen Pertahanan AS belakangan mengungkapkan untuk kali pertama besaran stok senjata nuklir terkini yang dimilikinya. Menurut AS, negara itu memiliki sedikit di atas 5.113 hulu ledak nuklir dan jumlah itu turun dari 30.000 pada puncak Perang Dingin. Informasi ini sangat dirahasiakan oleh AS selama beberapa puluh tahun.
Menlu Clinton mengatakan pengumuman tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan transparansi dalam ketentuan perlucutan senjata nuklir dan mendorong negara-negara lain untuk mematuhinya.
Transparansi
Sepanjang pidatonya di konferensi NPT tersebut, Clinton berkali-kali mengecam Iran dan menuding Presiden Ahmadinejad melontarkan ''tuduhan lama, salah dan terkadang asal-asalan'' terhadap Amerika Serikat dan negara-negara lain.
"Iran akan melakukan apa saja yang bisa dia lakukan untuk mengalihkan perhatian dari catatannya sendiri dalam upaya untuk menghindari tanggungjawab,'' katanya.
"Iran adalah satu-satunya negaranya yang diwakili dalam ruang ini yang telah dinyatakan oleh dewan gubernur [badan pengawas energi atom PBB, IAEA] saat ini tidak mematuhi kewajiban untuk mengamankan nuklirnya,'' ujarnya.
"Dia telah tidak mengacuhkan Dewan Keamanan PBB dan IAEA dan membahayakan masa depan ketentuan non-proliferasi nuklir, dan itulah sebabnya dia semakin dikucilkan dan ditekan oleh masyarakat internasional,'' tambah Clinton.
AS saat ini tengah merundingkan dengan para anggota lain DK PBB agar menjatuhkan putaran keempat sanksi ekonomi PBB terhadap Teheran berkaitan dengan program pengayaan uraniumnya.
Teheran bersikukuh bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk maksud-maksud damai.
Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) memuat grand bargain, kata wartawan diplomatik BBC Jonathan Marcus.
Lima kekuatan nuklir utama - AS, bekas Uni Soviet, Cina, Inggris dan Prancis - setuju pada akhirnya untuk melepas senjata nuklir mereka.
Negara-negara lain yang menandatangani NPT setuju untuk mengembangkan senjata nuklir dengan imbalan akses penuh ke teknologi nuklir sipil.
Dalam pidatonya, Ahmadinejad mengecam negara-negara nuklir karena lalai untuk melakukan perlucutan nuklir. Dia mengatakan 'produksi, penimbunan dan perbaikan kualitas senjata nuklir mereka...kini menjadi alasan yang membenarkan negara lain untuk mengembangkan [senjata nuklir] sendiri''.
''Senjata nuklir adalah senjata untuk menyerang umat manusia, bukan senjata pertahanan. Kepemilikan senjata nuklir bukan sumber kebanggaan. Memiliki senjata nuklir itu memuakkan dan memalukan,'' katanya.





























