Korsel bawa Korut ke DK PBB

Korea Selatan mengatakan akan membawa Korea Utara yang menyebabkan tenggelamnya kapal perang mereka ke Dewan Keamanan PBB.
Rencana itu diumumkan beberapa hari setelah hasil penyelidikan menemukan bukti tentang serangan torpedo atas kapal perang Korea Selatan, Maret lalu.
Wartawan BBC di Seoul, John Sudworth, melaporkan pemerintah Korea Selatan memang sudah mengatakan bahwa Korea Utara harus membayar atas serangan torpedo itu.
Dan maksud pernyataan tersebut kini sudah jelas dengan pengumuman dari kantor presiden Korea Selatan tentang rencana untuk membawa masalah itu ke Dewan Keamanan PBB.
Tampaknya pemerintah Seoul ingin mendorong kesepakatan internasional untuk memperkuat sanksi yang ada saat ini terhadap Pyongyang.
Sejumlah laporan menyebutkan beberapa langkah unilateral juga akan ditempuh, antara lain larangan kapal Korea Utara untuk memasuki wilayah perairan Korea Selatan maupun latihan anti kapal perang berskala besar dengan Angkatan Laut Amerika Serikat di dekat lokasi tenggelamnya kapal perang itu.
Korea Utara sudah membantah keterlibatan dalam tenggelamnya kapal yang menewaskan 46 pelaut.
Namun penyelidikan yang dilakukan Korea Selatan -dengan dukungan para ahli dari lima negara- menemukan bukti kapal itu diserang dan adanya bagian dari torpedo Korea Utara.
Perundingan 6 negara
Keputusan Korea Selatan membawa masalah ini ke PBB, menurut dutabesar Indonesia untuk Korea Selatan, Nicholas T. Dammen sangat bisa dipahami.
Namun dia menilai langkah mencari resolusi baru dari Dewan Keamanan PBB mungkin tidak akan efektif mengingat lima anggota permanen Dewan Keamanan tidak punya pendapat yang sama dalam bersikap terhadap Korea Utara.
"Saya kira yang lebih tepat adalah mencoba menghidupkan kembali perundingan enam negara untuk membawa kedua Korea berunding," kata Nicholas Dammen kepada BBC, Minggu malam.
Perundingan enam negara yaitu Amerika, Rusia, Cina, Jepang, Korea Selatan dan Korea Utara dimulai tahun 2003 untuk menyelesaikan masalah program senjata nuklir Korea Utara secara damai.
Perundingan ini tidak banyak membuahkan hasil dan terhenti tahun 2007 lalu.
Sementara itu, pengajar di Fakultas Hubungan Internasional, Universitas Hankook, Seoul, Profesor Yang Seung Yoon berpendapat pemerintah negaranya masih berharap Cina yang selama ini dikenal pro Korea Utara, akan berubah sikap sedikit ketika masalah ini diangkat di PBB.
"Banyak yang memperkirakan bahwa sikap Cina yang pro Korea Utara tidak akan berubah banyak, tetapi dunia internasional mengharapkan paling tidak sikap Cina akan berubah sedikit," kata Yang Seung Yoon kepada BBC Indonesia, Minggu malam.
Selanjutnya, Yang Seung Yoon mengatakan rakyat Korea Selatan mendukung sikap pemerintah membawa masalah ini ke PBB.





























