PBB minta Israel-Lebanon menahan diri

Tentara Israel dan Lebanon terlibat baku tembak di perbatasan
Keterangan gambar, Tentara Israel dan Lebanon terlibat baku tembak di perbatasan

Israel dan Lebanon harus ''menahan diri sekuat-kuatnya'', kata Dewan Keamanan PBB, setelah bentrokan pecah di perbatasan dan menelan lima korban jiwa.

PBB meminta kedua pihak mematuhi kesepakatan yang mengakhiri konflik lintas perbatasan tahun 2006.

Israel dan Lebanon saling menyalahkan setelah tiga tentara Lebanon, seorang wartawan Lebanon, dan seorang perwira Israel tewas dalam bentrokan.

Situasi sering tegang di sepanjang perbatasan yang memiliki pertahanan sangat kokoh.

Namun, korban jiwa hari Selasa menandai insiden paling serius sejak 2006, ketika Israel terlibat konflik bersenjata 34 hari dengan kelompok militan Syiah Lebanon, Hizbullah.

Meski bentrok terbaru melibatkan pasukan reguler, pemimpin Hizbullah Sheikh Hassan Nasrallah mengatakan anak buahnya tidak akan ''berdiam diri''.

Militer Lebanon menyatakan serdadu Israel melintasi perbatasan untuk mencabut pohon yang menghalangi pandangan mereka.

Pasukan Lebanon kemudian melepaskan tembakan peringatan dan Israel membalas dengan tembakan dari meriam artileri dan helikopter.

Membantah

Israel membantah melintasi perbatasan dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan membalas setiap serangan "secara agresif".

Pasukan penjaga perdamaian PBB, Unifil, di Lebanon selatan mengatakan Selasa malam bahwa tidak ada bukti bahwa serdadu Israel menyeberangi perbatasan, lapor wartawan BBC Wyre Davies dari perbatasan kedua negara.

Dewan Keamanan PBB bertemu untuk membahas bentrok, dan setelah pertemuan utusan Rusia ke PBB, Vitaly Churkin mengatakan kedua belah pihak harus ''seksama memenuhi kewajiban mereka'' berdasarkan resolusi PBB yang mengakhiri konflik 2006.

Dia mengatakan mereka harus ''mengikuti penghentian permusuhan dan mencegah eskalasi lanjutan''.

Pernyataan DK PBB dikeluarkan setelah jurubicara Deplu AS PJ Crowley mengeluarkan seruan serupa.

Koran Israel Haaretz mengatakan insiden ini mungkin terjadi akibat salah satu pihak mungkin keliru mengidentifikasi garis perbatasan.