Sengketa diplomatik Prancis Jerman

Nicolas Sarkozy
Keterangan gambar, Sarkozy mengatakan Merkel ingin mengikuti langkah Prancis namun dibantah.

Prancis dan Jerman terlibat dalam perdebatan diplomatik setelah Kanselir Jerman, Angela Markel, secara tegas membantah Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, dalam masalah perkampungan warga Gypsy, yang juga disebut Roma.

Perdebatan diplomatik ini muncul di sela-sela pertemuan puncak Uni Eropa di Brussels.

Sarkozy dalam konperensi pers menyebutkan bahwa Kanselir Merkel mengatakan kepadanya tentang keingingan untuk mengikuti Prancis dalam menutup kam-kam perkampungan Gypsy.

Dan dia menduga langkah itu akan menggoncang politik Jerman.

Namun begitu kembali mendarat di Berlin, juru bicara Kanselir Merkel membantah kalau Merkel membahas masalah perkampungan Gypsy dengan Presiden Prancis selama pertemuan puncak di Brussels, apalagi tentang pengusiran Gypsy.

Sejak Agustus, Prancis sudah membongkar sekitar 200 perkampungan Gypsy dan memulangkan 1.000 orang ke Rumania dan Bulgaria.

Perdebatan lain

Selama pertemuan di Brussels, Sarkozy juga bersengketa dengan pejabat Uni Eropa.

Komisaris Hukum Uni Eropa, Viviane Reding, membandingkan langkah Prancis dengan tindakan Nazi di daerah Prancis yang mereka kuasai.

Dan Sarkozy merasa tersinggung dengan perbandingan itu.

"Kata-kata yang menjijikkan dan memalukan digunakan -Perang Dunia II, pengusiran Yahudi- dan ini amat mengejutkan kami," kata Sarkozy.

Reding belakangan menyayangkan penafsiran atas komentarnya.

Sarkozy kemudian berdebat keras dengan Presiden Komisi Uni Eropa, Jose Manuel Barroso.

Barroso mengaku terjadi saling lempar komentar keras namun menegaskan diskriminasi atas etnis minoritas tidak bisa diterima.

Dalam beberapa tahun belakangan, Prancis sudah mengusir ribuan warga Rumania dan Bulgaria namun mulai mempercepat prosesnya bulan lalu sebagai bagian dari upaya penutupan perkampungan-perkampungan gelap