AS tetap minta Cina naikkan yuan

Presiden Amerika Serikat Barack Obama mendesak Perdana Menteri Cina Wen Jiabao segera melakukan revaluasi mata uang Cina yuan.
Keduanya bertemu di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York.
Selain membahas revaluasi yuan, Obama dan Wen Jiabao juga membicarakan peningkatan kerja sama ekonomi.
Menurut wartawan BBC di New York Michelle Fleury, di depan umum Obama dan Wen Jiabao menegaskan bahwa mereka adalah mitra dan bukan pesaing satu sama lain.
Namun di belakang layar, presiden AS mengatakan Cina harus lebih aktif menyelesaikan persoalan nilai tukar yuan.
Sudah sejak lama AS mengatakan nilai yuan terlalu rendah, yang menyebabkan ekspor Cina menjadi lebih kompetitif di pasar dunia.
Pada hari Rabu (22/9) Wen Jiabao mengatakan Cina tidak bisa memenuhi tuntutan AS agar nilai yuan dinaikkan 20%.
'Kerusuhan sosial'
Wen mengatakan kenaikan 20% akan menyebabkan kebangkrutan besar perusahaan-perusahaan di Cina.
"Anda tidak tahu seberapa banyak perusahaan yang bangkrut dan jumlah karyawan yang harus di-PHK," kata Wen.
Ia menambahkan, bila itu terjadi akan terjadi kerusuhan sosial di Cina.
Wen juga mengatakan kenaikan 20% tidak akan serta merta mengatasi tingginya angka pengangguran di AS.
Namun bagi Obama, situasi di dalam negeri memaksanya untuk lebih agresif menekan Cina.
Ini adalah pertemuan Obama dan Wen pertama sejak Cina melonggarkan nilai yuan terhadap dollar Juni lalu.





























