Jepang tolak permintaan Cina

Jepang menolak permintaan Cina agar menyampaikan permintaan maaf secara resmi dan membayar ganti rugi atas penahanan kapten kapal penangkap ikan milik Cina.
Seorang juru bicara kementerian luar negeri Jepang menyebut tuntutan Cina tidak berdasar dan tidak bisa diterima.
Kapal penangkap ikan Cina bertabrakan dengan dua kapal penjaga pantai Jepang di perairan yang diperebutkan kedua negara.
Kapten dan anak buah kapal kemudian ditangkap oleh Jepang dan masalah ini memicu pertikaian terburuk antara kedua negara selama beberapa tahun terakhir.
Mereka semua telah dibebaskan termasuk kapten kapal, Zhan Qixiong. Namun Cina tetap menahan empat warga negara Jepang yang dicurigai masuk ke zona militer terbatas di Cina utara.
Menyusul pembebasan Zhan Qixiong, pemerintah Cina menuntut Jepang meminta maaf.
"Ini merupakan tindakan yang melanggar kedaulatan Cina dan hak asasi manusia seorang warga negara Cina dan pemerintah Cina memprotes keras tindakan tersebut," demikian bunyi kementerian luar negeri Cina.
Menguntungkan
Pihak penuntut di Jepang mengatakan keputusan untuk membebaskan kapten kapal Cina diambil karena hubungan Beijing dan Tokyo semakin buruk.
Perdana Menteri Jepang Naoto Kan mengatakan tujuan pembebasan adalah untuk mendorong hubungan "yang sama-sama menguntungkan" dengan Cina.
Zhan Qixiong bertolak dari Okinawa, Jepang Jumat malam waktu setempat dengan menggunakan pesawat carter khusus yang dikirim oleh pemerintah Cina.
Setelah mendarat di bandar udara Fuzhou, Provinsi Fujian, dia menyatakan lega bisa menghirup udara bebas dan menegaskan lagi bahwa dia tidak bersalah.
"Kepulauan Diaoyutai adalah bagian wilayah Cina. Saya ke sana untuk menangkap ikan. Itu tindakan sah," katanya.





























