KBRI Athena waspadai bom paket

Kedutaan Besar Indonesia di Athena memperketat keamanan di tengah ancaman bom paket yang ditemukan di ibukota Yunani itu dalam tiga hari terakhir ini, sementara pemerintah Yunani menghentikan sementara pengiriman surat dan paket internasional lewat udara selama 48 jam.
"Kami melakukan upaya peningkatan keamanan baik di lingkungan KBRI sendiri juga di wisma (kediaman duta besar). Terhadap orang yang masuk ke KBRI bisa kami lihat melalui CCTV siapa yang akan masuk, mereka membawa apa, untuk meningkatkan kewaspadaan," kata Duta Besar Indonesia untuk Yunani, Ahmad Rusdi.
Paket-paket itu dikirim dari Athena kepada berbagai institusi di Eropa seperti kepolisian Eropa, Europol, Mahkamah Eropa di Luxemburg, kantor Kanselir Jerman Angela Merkel selain juga kepada sejumlah kedutaan besar asing di Athena sendiri.
Pada hari Selasa (2/11) paket berisi bom diterima oleh kedutaan Swis di Athena, yang kemudian menimbulkan ledakan kecil. Paket serupa juga ditemukan di kedutaan Rusia, Bulgaria dan Cile.
Duta besar Ahmad Rusdi mengakui banyak diplomat yang merasa khawatir akan menjadi sasaran.
"Rasa kekhawatiran memang muncul dari beberapa lapisan, termasuk dari kalangan diplomat..... Kementrian luar negeri (Yunani) sendiri secara langsung menelepon ke seluruh kedutaan, termasuk kami sendiri, agar hati-hati dalam menerima kiriman maupun parsel. Supaya teliti dan waspada," ujar Rusdi.
Kelompok kiri
Pemerintah Yunani menuding kelompok sayap kiri anarkis Konspirasi Sel Api bertanggung jawab atas paket-paket berisi bom tersebut.
Senin lalu aparat di Athena menangkap dua orang yang diduga terkait aksi tersebut. Salah satu diantaranya ditahan saat dia sedang mengantarkan sendiri sebuah paket yang dialamatkan kepada Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.
Duta Besar Ahmad Rusdi mengatakan, kelompok Konspirasi Sel Api sudah dikenal oleh masyarakat Yunani.
Bulan Juni lalu, di tengah gelombang aksi mogok massal dan kericuhan menentang langkah pemerintah untuk melakukan penghematan anggaran besar-besaran, sebagian anggotanya ditangkap karena mengirim bom paket ke Kementrian Dalam Negeri Yunani.
"Mereka masih muda, berumur sekitar 20 sampai 25 tahun. Pada bulan Juni lalu mereka melakukan hal yang sama dan sebagian ditahan aparat keamanan, namun ternyata mereka masih melakukan aksinya," kata Rusdi.
Para pengamat di Yunani, menurut duta besar, memiliki sejumlah teori mengapa mereka melakukan hal itu.
"Mungkin itu bisa saja merupakan pelampiasan kekecewaan. Tapi sebagian kalangan mengatakan mereka menggunakan momentum menjelang pilkada di Yunani tanggal 7 November, untuk mengacaukan," tambahnya.





























