Amnesty kritik program televisi Iran

Sakineh Ashtiani
Keterangan gambar, Kasus Ashtiani menarik perhatian dunia internasional

Amnesty Internasional mengkritik program televisi Iran yang menyiarkan pengakuan Sakineh Mohammadi Ashtiani yang dijatuhi hukuman mati dengan rajam karena zinah.

Juru bicara Amnesty Internasional mengatakan pengakuan televisi itu melanggar standar hukum internasional.

Dalam program 25-menit itu, Ashtiani mengaku dan menyebutkan dugaan keterlibatannya dalam pembunuhan suaminya.

Ia terlihat menggunakan jarum untuk menyuntik suaminya.

Wartawan BBC, James Reynolds, mengatakan melalui tayangan ini pemerintah ingin menunjukkan tiga hal, yaitu Ashtiani bersalah, upaya untuk membebaskan dia dilakukan oleh aktivis terkenal Iran, dan bahwa sistem yudisial Iran tidak biadab.

Kelompok-kelompok hak asasi mengatakan pengakuan itu tidak ada artinya karena dilakukan di bawah tekanan.

Laporan televisi itu menuduh Mina Ahadi, seorang aktivis di Jerman yang mengorganisir pembebasan Ashtiani.

Iran sering menuduh kelompok-kelompok yang berkantor di luar negaranya berupaya mengganggu stabilitas negara itu.

Dokumenter yang disiarkan Press TV itu ditayangkan setelah laporan media menyebutkan ia telah dibebaskan. Ia pada mulanya dihukum mati tahun 2006.

Nasibnya menjadi sorotan dunia internasional ketika terungkap ia akan dihukum rajam karena berzinah. Permintaan banding dan pengampunan lain ditolak.

Mengalihkan tekanan

Dalam tayangan yang digambarkan Press TV sebagai laporan investigatif itu, Ashtiani mengaku ia membius suaminya dengan suntikan di kediaman mereka di kota kecil Oskou di barat daya Iran.

Saat suaminya tidak sadar, pacar Ashtiani, Isa Taheri, mencoba menyetrumnya dengan listrik.

"Pertama ia menghubungkan kawat listrik ke kakinya dan juga di pinggangnya. Saat listrik disambung ke saklar, ternyata listrik mati.

"Isa menyetrum listrik suami saya enam kali, namun ia belum meninggal karena masih bergerak. Namun pada saat setrum ketujuh, dia tidak bergerak lagi," katanya.

Sejumlah laporan di Iran menggambarkan Ashtiani sebagai pembunuh, dan bukannya perempuan yang menyeleweng, sebagai cara mengalihkan tekanan internasional atas hukuman rajam itu.

Program Press TV tidak menjawab sepenuhnya pertanyaan apakah ia akan dihukum mati.

Press TV menekankan lagi posisi pemerintah bahwa kasus Ashtiani masih diproses dalam sistem legal Iran dan ia masih ada kesempatan terbebas dari hukuman mati.

Sejumlah laporan di media internasional menyebutkan ia telah dibebaskan setelah ada pernyataan hari Kamis dari Komite Internasional Anti-Rajam bahwa mereka telah "menerima laporan tentang pembebasan Sakineh Mohammadi Ashtiani dan putranya".

Kelompok yang bermarkas di Jerman itu mengatakan mereka masih menunggu konfirmasi dari pemerintah Iran.