Korut ingin berdialog dengan Korsel

Korea Utara memberikan sinyal untuk melakukan perdamaian dengan mengatakan ingin kembali membuka dialog dengan Korea Selatan.
Komite Reunifikasi Korea Utara mempublikasikan pernyataan untuk kembali melakukan pembicaraan "awal dan tanpa syarat".
Pejabat Seoul mengatakan mereka akan meninjau kembali permintaan dari Pyongyang.
Sebelumnya, Korsel menolak tawaran Korut ini dan menyebutnya sebagai 'propaganda'.
Tenggelamnya kapal perang Korea Selatan pada Maret tahun lalu, memicu ketegangan politik di Semenanjung Korea.
Kapal Perang Cheonan tenggelam karena torpedo Korut, dan menewaskan 46 orang anggota marinir. Tetapi Korut membantah melakukan serangan.
Sejak saat itu, Korsel membalas serangan Korut itu dengan menggelar latihan militer besar-besaran dekat perbatasan laut.
Pada 23 November, Korut kembali memicu kemarahan Korsel dengan melakukan serangan ke Pulau Yeonpyeong, dan menewaskan empat orang.
Tetapi, pekan ini, Korut tidak mengeluarkan pernyataan ancaman perang dan balas dendam, tetapi malah menawarkan pembicaraan dan tawaran perdamaian.
"Otoritas Korea Selatan harus menyingkirkan segala kekhawatiran, membuka hati mereka dan merespon secara positif terhadap permintaan dan langkah Korea Utara," kata Komiter reunifikasi perdamaian Korea pada Sabtu (8/1).
Komite menawarkan pembicaraan kedua negara dapat dilakukan pada akhir Januari atau awal Februari.
Komite juga mengatakan Korut akan membuka kembali kantor penghubung dengan Korsel dalam satu kompleks bersama di zona demiliterisasi, diperbatasan kedua negara.
Dalam responnya, Juru bicara Menteri gabungan Chun Hae-sung kepada Kantor Berita Associated Press mengatakan akan mempertimbangkan pernyataan itu, tetapi menyebutkan belum ada permintaan resmi yang diterima oleh Korut.





























