Menhan AS tinjau fasilitas nuklir Cina

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengunjungi pusat persenjataan nuklir Cina di akhir lawatan empat harinya di negeri Tirai Bambu itu.
Kesempatan langka untuk mengunjungi fasiltas persenjataan nuklir Cina dilakukan di Korps Artileri Kedua Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)
Salah satu tujuan utama kunjungan itu adalah untuk memperbaiki hubungan militer kedua negara.
Para pejabat kedua negara memuji kunjungan ini yang dinilai sangat sukses.
"Kami yakin pertukaran bidang apapun dengan Amerika Serikat akan sangat menguntungkan. Kami kini semakin saling percaya dan menghilangkan berbagai kesalahpahaman," kata Deputi bidang luar negeri Menteri Pertahanan Cina Guan Yofei.
Youfei menambahkan kunjungan Menhan Gates itu merupakan sebuah langkah untuk semakin mengembangkan relasi yang lebih stabil dan sehat di antara kedua angkatan bersenjata.

Sementara itu, Menhan Gates juga menyatakan gembira dengan kunjungannya ke Cina ini.
"Kami berdiskusi soal strategi nuklir dan pendekatan umum Cina terhadap sebuah konflik. Diskusi kami cukup luas, cukup terbuka," kata Gates.
"Dan saya kira diskusi kami sangat produktif dan membuka jalan untuk membawa hubungan militer kedua negara ke tingkat selanjutnya," tambah Gates.
Gates menambahkan komandan pusat persenjataann nuklir Cina, Jenderal Jing Zhiyuan telah menerima undangan untuk mengunjungi pusat komando strategis AS di Nebraska.
Hubungan militer kedua negara menegang setelah Amerika Serikat menjual senjatanya ke Taiwan.
Baik Cina dan Amerika Serikat sama-sama memiliki persenjataan misil jarak jauh yang bisa mencapai wilayah masing-masing negara.
Kunjungan Robert Gates ini dilaksanakan sebelum Presiden Cina Hu Jintao dijadwalkan mengunjungi Washington DC pekan depan.
Lomba senjata baru?

Alexander Neil, kepala program keamanan Asia di Royal United Services Institute, lembaga pengkajian independen masalah pertahanan Inggris menilai saat ini terjadi perlombaan senjata baru antara Cina dan Amerika Serikat.
Di balik senyum para pejabat yang bersalaman dengan hangat dalam konferensi tingkat tinggi pejabat pertahanan di Beijing, hubungan AS-Cina masih diwarnai ketidakpastian.
Setahun setelah Beijing membekukan hubungan militer karena Amerika memberi paket bantuan senjata senilai US$6,4 miliar ke Taiwan, permintaan Amerika untuk menghidupkan kembali dialog strategis, disambut biasa-biasa saja oleh Beijing.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) tidak lagi antuisas terlibat dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat dalam setahun terakhir.
Tindakan Amerika memperkuat hubungannya dengan Taiwan serta mengadakan latihan militer bersama dengan Korea Selatan di perairan dekat Cina dalam beberapa bulan terakhir menimbulkan ketidaksukaan di Cina serta kekhawatiran akan kekuatan militer AS.
Ketidaksukaan Amerika berawal dari gangguan yang dilakukan oleh Angkatan Laut Cina dan kapal-kapal ikan negara itu terhadap Angkatan Laut Amerika dan sekutunya di Pasifik Barat.
Amerika juga frustrasi dengan pendirian Cina soal dialog strategis menyangkut masalah-masalah keamanan internasional, khususnya ketika ketegangan di semenanjung Korea tetap tinggi dan pembangunan nuklir Korea Utara tetap tidak bisa diperiksa.
Tetapi kekhawatiran Pentagon yang paling besar adalah kegagalannya mendeteksi kemajuan teknologi militer Cina yang begitu pesat dan kemampuannya mengendalikan perlombaan senjata di Asia Timur.

Walaupun media massa internasional lebih menyoroti kehadiran pesawat tempur antiradar Cina, petinggi militer Amerika lebih khawatir pada teknologi ikutannya yang akhirnya akan membuat militer Cina jauh lebih unggul.
Kekhawatiran mereka terutama terfokus pada program militer "informanisation" yang dirancang untuk melampaui kemampuan Amerika di wilayah Pasifik.
PLA mengembangkan teknik-teknik perang asimetris melawan infrastruktur komando, kontrol, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pegintaian Amerika yang dalam dunia militer dikenal dengan istilah "C4ISR".
Bagi Cina yang kemampuan militer konvensionalnya lebih rendah dari Amerika, kunci untuk unggul dalam konfliknya dengan Amerika adalah menguasai luar angkasa dan menghancurkan sistem syaraf digitalnya.
Cina melihat angkasa luar sebagai landasan kemakmurannya di masa depan; mandat dari surga bagi pertumbuhan dan kekuatan militer Cina.
Untuk itulah, Cina berusaha keras mengatasi monopoli Pentagon di luar angkasa dan membangun sendiri sistem penangkis pertahanan yang berpangkalan di luar angkasa.
Doktrin "senjata yang mematikan", yaitu pendekatan berlapis dengan menggunakan luar angkasa, dunia maya, dan operasi-operasi informasi bersamaan dengan kemampuan militer konvensional dirancang untuk meluluh lantakkan lawan dengan satu serangan cepat yang mematikan.
Modernisasi militer tingkat tinggi dan berlangsung sangat cepat ini menghasilkan teknologi dan sistem persenjataan yang di beberapa bidang berhasil menutupi kekurangan Cina dari Amerika.
Ini termasuk teknologi serangan dunia maya, teknologi pengacakan dan pengarahan energi yang dirancang untuk melumpuhkan mesin militer Amerika.
PLA baru-baru ini mengembangkan dan berhasil menguji sistem persenjataan antisatelit (ASAT), memperlihatkan bagaimana senjata ini bisa melumpuhkan atau melakukan manuver dekat dengan satelit-satelit musuh di angkasa.
Senjata ASAT adalah bagian dari genre baru "senjata kejutan" yaitu strategi bela diri Cina yang ditujukan pada sistem keamanan komputer milik Pengaton bernama Achilles Heel, baik di luar angkasa maupun di dunia maya.
Semua kemampuan ini membutuhkan sistem komunikasi dan pemrosesan sinyal, teknologi yang dikembangkan Cina sendiri untuk menciptakan arsitektur komando dan kontrolnya sendiri.






























