Protes kembali terjadi di Tunisia

Tunisia
Keterangan gambar, Aksi protes dipicu oleh harga pangan tinggi dan tingkat pengangguran

Pengunjuk rasa mulai berkumpul di pusat kota Tunis, Tunia, sementara tekanan terhadap Presiden Zine al-abidine Ben Ali.

Serikat buruh meminta warga untuk melakukan aksi mogok massal pada hari Jumat (14/01).

Wartawan BBC di Tunisia mengatakan pertanda awal memperlihatkan bahwa warga negara itu akan mengikuti permintaan serikat buruh untuk melakukan protes.

Dalam pidato hari Kamis malam (13/01), Ben Ali -yang berkuasa sejak tahun 1987- <link type="page"><caption> mengumumkan akan mundur tahun 2014 .</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110113_tunisialeaderretire2014.shtml" platform="highweb"/></link>

Pengumuman ini dikeluarkan setelah terjadi aksi protes selama beberapa minggu yang menewaskan puluhan orang.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan 60 orang tewas akibat kekerasan yang terjadi di seluruh penjuru negara, ketika pasukan keamanan mengambil langkah tegas terhadap warga yang memprotes<link type="page"><caption> korupsi, tingkat pengangguran dan harga pangan yang tinggi</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110111_tunisiaunrest.shtml" platform="highweb"/></link>.

Aksi protes terjadi pada pertengahan Desember di kota Sidi Bouzid setelah seorang sarjana pengangguran membakar diri ketika polisi berusaha melarangnya menjual sayuran tanpa ijin. Beberapa minggu kemudian dia meninggal.

Tuntutan reformasi

Dalam pidato hari Kamis malam itu, Ben Ali mengatakan "tidak ada presiden seumur hidup" di Tunisia.

Akan tetapi wartawan BBC mengatakan banyak warga yang meragukan pernyataan itu akan benar-benar diwujudkan dalam tindakan.

Ben Ali, 74 tahun, adalah presiden kedua Tunisia sejak negara ini merdeka dari Prancis tahun 1956.

zine el abidine ben ali
Keterangan gambar, Presiden Tunisia berusaha menenangkan rakyat yang tidak puas

Dalam pemilihan umum tahun 2009, dia kembali terpilih dengan 89,62% suara.

Saat berpidato, Ben Ali mengatakan tidak berniat mengubah UUD dasar untuk menghapus batas usia maksimum seorang calon presiden, yang bisa membuatnya kembali berlaga di pemilu setelah masa jabatannya berakhir tahun 2014.

Presiden, yang awal minggu ini menuduh kerusuhan dilakukan oleh "kaum teroris", juga mengatakan dia "sangat, sangat menyesali" kematian warga sipil dalam aksi protes ini.

Dia mengatakan telah memerintahkan tentara tidak lagi menembaki para pengunjuk rasa kecuali untuk membela diri, dan berjanji akan mengambil tindakan terkait harga pangan yang naik empat kali lipat dalam beberapa minggu terakhir.

Setelah pidato itu, para pendukung Ben Ali turun ke jalan-jalan kota Tunis untuk merayakan.

Menteri luar negeri Kamel Mourjane mengatakan ada kemungkinan untuk membentuk satu pemerintah persatuan nasional yang mengikutsertakan kubu oposisi.

Dia mengatakan kemungkinan pemilihan parlemen dilakukan lebih awal.

Ketua oposisi terbesar Tunisa, Najib Chebbi, menyebut pernyataan presiden itu "sangat bagus", tetapi mengatakan masih menunggu "rincian konkritnya".