Davos serukan stabilitas di Mesir

Sumber gambar, davos
Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan, minta presiden Mesir, Husni Mubarak, agar memulai dialog dengan rakyatnya di tengah gelombang protes di negara itu.
"Saya berharap pemerintah Mesir akan memulihkan keamanan dan perdamaian," kata Kan dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos.
Kerusuhan di Mesir menjadi topik utama pembahasan para pemimpin dunia yang datang ke kawasan resor di Swiss ini.
Sementara itu pemerintah Tunisia mengatakan kepada peserta di Davos bahwa negara mereka kembali "terbuka untuk bisnis".
Pariwisata terganggu
Pergolakan yang terjadi di negara Afrika Utara dua minggu lalu itu meyebabkan tergulingnya Presiden Ben Ali yang sudah berkuasa 23 tahun.
Tetapi Mustapha Kamel Nabli, gubernur bank sentral Tunisia yang baru mengatakan kepada delegasi di Davos bahwa "situasi bisnis sudah jauh lebih menguntungkan".
"Kami tidak melihat kesulitan apa pun dan kami ingin menegaskan hal ini kepada para investor," tambah Mustapha.
Dia mengatakan kehidupan sudah kembali berjalan normal, rakyat kembal bekerja, sistem keuangan dan perbankan tetap stabil, demikian juga nilai tukar mata uangnya serta likuiditasnya.
"Jelas sektor pariwisata terganggu tetapi kami berharap ini cuma sementara dan turisme kembali seperti biasanya," tambah dia.
Khawatir
Presiden OECD mengatakan dia khawatir dampak ketidakstabilan di Mesir.
"Apa saja yang mengancam pembangunan, mengkhawatirkan kami," kata Angel Gurria, kepala Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang merupakan wadah negara-negar maju.
Sementara itu sekretaris jenderal organisasi HAM, Amnesty International, Salil Shetty, mengatakan demonstrasi di Mesir adalah "peringatan" bagi para elit bisnis dan politik dunia yang sedang bertemu di Davos.
"Ini saatnya mengambil langkah jujur dalam menjunjung hak asasi rakyat seperti yang terdengar dalam pidato soal HAM dan reformasi yang disampaikan di sini."
Senator Amerika, John Kerry, yang juga hadir di Davos mengatakan Mubarak perlu menjawab kekhawatiran rakyatnya.
Kerrry mengatakan kepada BBC, situasi di Mesir kritis dan sangat mengkhatwatirkan siapa pun di wilayah itu dan di dunia.
"Kuncinya adalah Mubarak menanggapi rasa frustasi dan tuntutan rakyat yang sudah terpendam begitu lama."
Sementara itu bursa saham Arab Saudi anjlok 6 persen karena para investor khawatir dengan pergolakan yang terjadi di Mesir.





























