Raja Bahrain minta bebaskan tahanan

Sumber gambar, Reuters
Raja Hamad memerintahkan sejumlah tahanan politik dibebaskan, sementara ribuan orang menghadiri pemakaman seorang pengunjuk rasa Shiah.
Pembebasan para pembangkang ini merupakan satu tuntutan penting para pengunjuk rasa pro demokrasi yang menduduki Lapangan Manama.
Keputusan ini diambil disaat partai-partai oposisi menyerukan satu aksi turun ke jalan pada hari Selasa (22/02) -yang merupakan dukungan resmi pertama terhadap gerakan aksi protes.
Penyelenggara mengatakan aksi ini bisa menjadi yang terbesar yang pernah terjadi.
Para pendukung prodemokrasi masih menginap di Lapangan Manana dan menolak berunding dengan Putra Mahkota sampai tuntutan mereka dipenuhi.
Selain pembebasan tahanan ini mereka menginginkan pemerintah mundur, penyelidikan kematian pengunjuk rasa dan reformasi politik yang bisa berakhir dengan sistem kerajaan berdasarkan undang-undang dasar.
Sebagian pengunjuk rasa juga meminta Raja Hamad bin Isa al-Khalifah mundur.
Tujuh orang tewas dan sejumlah besar warga luka-luka dalam satu minggu belakangan setelah pasukan keamanan mempergunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi, sebelum diperintahkan mundur pada hari Sabtu (19/02).
Pemakaman

Sumber gambar, AFP
Hari Selasa (22/02), ribuan orang mengikuti upacara pemakaman Redha Mohammed dan berpawai mengiringi jenazah di jalan-jalan Manama sambil meneriakkan slogan antipemerintah.
Korban berusia 20 tahun ini tewas setelah luka ditembak polisi pada saat mengikuti iring-iringan pemakaman korban lain tiga hari lalu.
Pawai masal yang diserukan pada hari Selasa siang ini disebut "pawai kesetiaan kepada syuhada," ujar Ibrahim al-Sharif, seorang pegiat oposisi sekular Sunni.
Pawai ini dilakukan setelah ribuan kaum Sunni pro pemerintah melakukan aksi di satu mesjid Manama pada hari Senin malam untuk menyatakan rasa setia pada keluarga kerajaan al-Khalifa, dan meminta para pengunjuk rasa untuk menjawab undangan Putra Mahkota Salman bin Hamad untuk membicarakan perundingan reformasi politik secara luas.
Bahrain adalah satu dari sejumlah negara Arab yang diwarnai dengan aksi demonstrasi pro demonstrasi sejak kejatuhan Presiden Zine El Abidine Ben Ali pada bulan Januari, sementara presiden Hosni Mubarak dipaksa mundur dari kekuasaan tanggal 11 Februari.
Warga Shiah yang menjadi mayoritas di Bahrain sejak lama mengatakan menjadi korban diskriminasi terkait perumahan dan pekerjaan di badan pemerintah. Mereka juga meminta hak politik lebih besar ditarik dari tangan keluarga kerajaan Sunni.
Namun para pengunjuk bersikap hati-hati dengan menggambarkan aksi mereka sebagai non-sektarian, dengan meneriakkan slogan seperti: "Tidak ada Sunni atau Shiah, hanya warga Bahrain bersatu."





























