Suriah: aksi protes baru di kota Deera

Presiden Suriah Bashar al-Assad

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Presiden Suriah Bashar al-Assad yang memimpin partai Baath tidak membiarkan oposisi

Ribuan orang melancarkan demonstrasi tiga hari terakhir ini di kota Deraa.

Polisi berusaha membubarkan para demonstran di kota di kawasan selatan tersebut dan seorang demonstran dilaporkan tewas.

Para demonstran dilaporkan menyerukan diakhirinya undang-undang darurat di negara itu yang sudah diterapkan selama 48 tahun dan meminta para pejabat yang terlibat dalam tindakan keras terhadap para demonstran minggu ini dipecat.

Bentrokan dengan kekerasan antara para demonstran dan aparat keamanan pada hari Jum'at menewaskan setidaknya empat orang.

Aksi protes hari Minggu dilancarkan di saat delegasi pemerintah tiba di Deraa untuk menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang tewas.

Para pegiat dikutip mengatakan polisi telah menggunakan gas air mata dan peluru tajam dalam upaya membubarkan para demonstran.

Jalan-jalan ke Deraa telah diblokir dan helikopter militer terbang di atas kota, kata mereka.

Seorang pegiat mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa seorang demonstran telah ditembak mati dan puluhan orang terluka. Para penduduk juga dikutip Reuters mengatakan bahwa seorang demonstran tewas.

'Anak-anak dibebaskan'

Pada hari Sabtu aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa di pemakaman dua orang yang tewas hari sebelumnya.

Presiden Suriah Bashar al-Assad yang partainya, partai Baath sudah mendominasi politik di negara itu selama hampir 50 tahun, boleh dikata tidak pernah membiarkan adanya oposisi.

Wartawan BBC Owen Bennett-Jones melaporkan dari negara tetangga Libanon bahwa pemerintah Suriah menggunakan gabungan kekerasan dan konsesi untuk mencegah aksi protes lebih lanjut.

Pemerintah mengatakan telah membebaskan 15 anak yang ditangkap karena menyemprotkan slogan-slogan revolusioner di tembok-tembok di Deraa, dan mengumumkan pengurangan tiga bulan masa wajib militer di seluruh negara.

Kantor berita resmi berusaha menjelaskan penggunaan peluru tajam dengan mengatakan bahwa beberapa oknum-oknum menyamar sebagai aparat keamanan sehingga menyebabkan polisi menggunakan kekerasan dan peluru tajam.