NATO mengambil alih operasi di Libia

Sumber gambar, Reuters
Pakta pertahanan Atlantik Utara, NATO, sepakat mengambil alih semua operasi internasional di Libia.
Berbicara setelah pertemuan dengan para duta besar NATO, sekjennya Anders Fogh Rasmussen mengatakan NATO akan mengimplementasikan semua aspek resolusi yang dikeluarkan PBB.
"Tidak lebih dan tidak kurang," tegas Rasmussen.
NATO sendiri sudah memberlakukan embargo senjata dan larangan terbang di atas wilayah Libia.
Dengan keputusan ini, sekarang NATO bertanggung jawab atas operasi yang bertujuan melindungi warga sipil di daerah-daerah berpenduduk.
Namun begitu, keputusan ini baru akan berlaku dalam beberapa hari lagi.
Pemberontak semakin maju
Sementara itu pasukan pemberontak di Libia dengan cepat memasuki wilayah Barat melawan pasukan pro pemerintah, dibantu oleh serangan udara internasional yang berhasil menghancurkan sebagian besar tank-tank dan artileri milik pemeritnah Kolonel Gaddafi.
Televisi pemerintah mengatakan kota kelahiran Gaddafi, Sirte, untuk pertama kalinya menjadi sasaran serangan udara. Ledakan dan tembakan antipesawat terdengar di ibu kota, Tripoli.
Seorang jurubicara di kota Misrata mengatakan kepada BBC bahwa pertempuran sengit masih berlanjut untuk memperebutkan jalan utama yang membelah kota.
Sebelumnya, pasukan oposisi merebut dua kota pelabuhan minyak yaitu Ras Lanuf dan Brega, di Libia timur.
Pemberontak jual minyak
Pemberontak Libia mengatakan mereka bisa mulai mengekspor minyak dalam waktu kurang dari seminggu lagi.
Jurubicara kelompok pemberontak, Ali Tarhouni, mengatakan ladang-ladang minyak di wilayah-wilayah yang dikuasai oposisi sudah menghasilkan minyak mentah lebih dari seratus ribu barel per hari.
Selanjutnya dia menambahkan, Qatar sudah setuju memasarkan minyak yang diproduksi itu.





























