Ledakan besar terjadi di Tripoli LIbia

Pemberontak di Misrata

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para pemberontak disebutkan masih menguasai Kota Misrata.

Ledakan besar terjadi di Ibukota Libia, Tripoli, menyebabkan tiga stasiun televisi menghentikan siaran mereka untuk sementara.

Pesawat Nato terbang di atas kota tersebut.

Laporan menyebutkan televisi Libia, Jamahiriya dan Shababiya menghentikan siaran selama sekitar setengah jam, menyusul ledakan yang terjadi pada dini hari waktu setempat.

Ledakan itu merupakan yang terbesar di Tripoli, seperti disampaikan oleh Koresponden BBC di Ibukota Libia.

Pasukan Kolonel Muammar Gaddafi yang tengah menumpas pemberontak merupakan target serangan Nato.

Hari Minggu (24/4) pasukan pendukung pemimpin Libia mengebom sejumlah wilayah di bagian barat Kota Misrata, meskipun pemerintahan Gaddafi mengatakan menghentikan serangan selama suku adat Misrata melakukan negosiasi dengan pemberontak.

Setidaknya enam orang tewas dalma serangan bom tersebut.

Seperti diberitakan Kantor Berita AFP, pasukan pendukung Gaddafi kalah di Misrata.

"Banyak tentara yang ingin menyerahkan diri, tetapi mereka takut kepada pemberontak," kata Lili Mohammed, seorang Mauritania yang disewa untuk menyerang pemberontak.

Wakil Menteri Luar Negeri Libia Khaled Kaim mengatakan tentara menghentikan serangan untuk memberikan kesempatan suku adat Misrata untuk memenangkan pertempuran dengan "damai dan tanpa campur tangan militer".

Tetapi juru bicara militer Dewan Transisi Nasional dari pihak pemberontak, Kolonel Omar Bani, mengatakan Kolonel Gaddafi melakukan "permainan kotor" dalam mengalahkan penentangnya.

Organisasi HAM menyebutkan lebih dari 1.000 orang tewas di Misrata dan lebih dari ribuan orang terluka.

Para korban luka itu, diangkut dengan kapal menuju rumah sakit di Benghazi.

Pemberontakan melawan pemerintahan Kolonel Gaddafi terjadi sejak Februari lalu, karena terinspirasi demonstrasi di sejumlah negara Arab.

Kelompok pemberontak menerima bantuan dana dari luar negeri yaitu Kuwait yang memberikan 50 juta dinar atau $ 180 juta kepada Dewan Transisi Nasional.